Arah Reformasi Indonesia


Identitas Buku

Judul : Arah Reformasi Indonesia

Penulis : Anton Sudiarja, S. J.

Penerbit : Universitas Sanata Dharma

Cetakan : I/ 2005

Halaman : 107 halaman

ISBN : 9798927931
Para mahasiswa merupakan kelompok yang paling peka atas penderitaan rakyat kecil, kelompok minoritas yang sering dilanggar hak-hak asasinya. Anton Sudiharja dalam pengantar bukunya Arah Reformasi  Indonesia menyampaikan bahwa karangan-karangan dalam buku ini merupakan tulisan yang dirancang untuk menanggapi peristiwa-peristiwa di awal-awal reformasi dan melemparkan pandangan ke depan untuk merumuskan topik-topik penting dalam mengisi perjalanan reformasi selanjutnya.

Karangan-karangan ini sebetulnya sudah pernah dimuat dalam majalah Arah Reformasi Indonesia, yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Universitas Sanata Dharma. Sesuai dengan judulnya dan maksud diadakannya jurnal tersebut, karangan-karangan dalam kumpulan ini juga mau merefleksikan arah reformasi Indonesia, yang mulai bergerak sejak tanggal 20 mei 1998.

Anton Sudiarja merumuskan segala bentuk persoalan dalam isi bukunya secara skematis. Diungkap melalui pokok-pokok pemikiran penting meliputi bidang-bidang etika, pendidikan, filsafat, sastra dan keagaman yang tersebar dalam pembahasan di tiap babnya.

Menurutnya, kemenangan orde baru yang didapat melalui bantuan Amerika saat itu mampu memperbaharui sistem ekonomi negara Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan memperlihatkan peningkatan taraf hidup dan penghasilan negara (GNP). Apalagi perdagangan minyak sedang laku keras, sementara Indonesia merupakan penghasil minyak yang besar (saat itu). Namun, peluang-peluang yang seharusnya mendatangkan kemakmuran rakyat banyak itu, tampaknya kurang baik dikelola, tidak diarahkan pada pembangunan struktur ekonomi yang sehat dan mantap. Penekanan pada pendapatan negara yang besar tidak diimbangi dengan usaha pemerataan dan pengembanagan ekonomi masyarakat. (hal. 5)

Pendeknya, semakin besar jurang antar kelas akibat dari besar kekayaan yang berat sebelah. Sehingga makin beratlah kesengsaraan dan perbudakan di lain pihak. Demikianlah, dalam situasi ini kaum menengah mampu menampakkan kemajuannya, sedangkan dipihak lain ada sebagian masyarakat yang kehidupan ekonominya sangatlah tidak sehat. Sehingga pada kesempatan itu mahasiswa merasa perlu untuk mengadakan pembaharuan sosial.

Karena posisi mahasiswa sebagai inisiator pembaharuan bisa dipahami karena di satu pihak kelompok ini belum mempunyai kedudukan dan interes politik sungguh-sungguh selain menyuarakan apa saja yang dirasakan masyarakat, khususnya rakyat kecil. Maka secara moral tidak bisa dibenarkan bila pemerintah menjalankan kekuasaannya tanpa memperhatikan aspirasi mereka. Sebab hanya dari "penderitaan" inilah dilahirkan sungguh-sungguh semangat kehidupan bersama yang beradab, menghindari kerakusan dan egoisme baik yang bersifat individu (liberal), maupun kelompok (komunal).

Bayu pamungkas, Yogyakarta 24/03/2016

Post a Comment

0 Comments