Cinta atau Sahabat #2



Senin, tanggal berapa gue lupa. Dia gak masuk kelas hari itu, dalam hati gue “tumben dia gak masuk tanpa ada kabar”. Rasanya hampa belajar tanpa memandangi dia, tetapi apa daya hanya ada bangku kosong didepanku. Seharian gue pikirin tentang dia, takut terjadi sesuatu yang buruk (biasanya gue bomat a.k.a bodo amat).



            Lonceng tanda pulang bunyi, gak kaya biasanya kalo denger kata “Pulang” gue langsung pergi bagai ditelan Bumi, tapi kali ini gue terdiam di tempat duduk gue. 15 menit, 30 menit berlalu, sendiri, terduduk di kelas, memikirkan sesosok perempuan yang begitu sempurna di mata gue. Akhirnya gue putusin pulang (ngapain aja bro?).

            Besoknya, dia belum juga datang, tapi dengan alasan sakit. Pagi itu, gue dapat kabar dia kecelakaan semalam, denger-denger kakinya lecet karena nyium aspal. Gue langsung inget kenapa dari kemarin perasaan gue tentang dia selalu gak enak (Banyak cara Tuhan menghadirkan cinta, mungkin engkau salah satunya)

            Pertengahan Semester 1, Rabu, pelajaran produktif. Pembagiann kelompok, bisa gue tebak anggota kelompoknya dia, karena pembagiannya menurut absen. Dan ternyata, entah kebetulan atau apa sekelompok sama dia. Mati gue!, habis gue kalo sekelompok sama dia dicengin* sama gerombolan makhluk-makhluk di kelas ini. Tiba waktu presentasi ke depan, gue udah tau pasti ribut kalo gue udah deket sama dia apalagi sekelompok sama dia.

            Ehem…Ahem…sakit tenggorokan,bro, dan segerombolan kata-kata lainnya mengiringi presentasi gue didepan.Entah seperti apa muka gue waktu itu, mungkin kalian pernah rasain apa yang gue rasain waktu itu, rasanya pengen lepas ini jantung.

            Hari ini, hari yang menurut gue gak bakalan gue lupa. Hari ini pertama ujian nasional, tapi ada yang bikin gue semangat menjalaninya. Dia (ya iyalah bro) duduk disamping gue, meskipun beda paket gue santai aja karena ada penyemangat bagi gue.

            Teng….teng….teng, bel tanda masuk berbunyi, pukul 07.30 tepat gue masuk kelas. Kampretnya gue duduk paling depan, ibaratnya ada manisnya dan ada pahitnya. Manisnya, ya dia duduk disebelah gue, pahitnya ya duduk di paling depan.

            Disaat gue masih sibuk ngerjain berlembar-lembar kertas ujian, heran gue, masih sempetnya gue mandangin dia (hari ini dia cantik banget). Alhasil gue ditegur pengawas ujian karena liatin dia terus.

            “Ngapain kamu liat-liat dia?. Kerjain soal ”

            Eh, nggak ada apa-apa kok, bu”

            Bisa ditebak, suasana kelas menjadi riuh, dicengin terus gue. Dia Cuma senyum-senyum kecil sama tragedi tadi.

Mr. V, Yogyakarta, 4 Mei 2016



Post a Comment

2 Comments

  1. Saya mengapresiasi Mr.'V' yang membuat cerita ini. Saya tidak tahu apakah ini pengalaman pribadi penulis atau karangan imajinatifnya. Tapi, terlepas dari itu, penulis berhasil membuat saya tertarik membaca ceritanya melalui judul yang ditampilkan. Judulnmya menurut saya menarik, mampu "menggiring" orang untuk penasaran trhdp isi dan jalan ceritanya. Tetapi, banyak yang harus dikoreksi dari cerita ini.Yang pertama, hubungan antara judul dan isi cerita. Penulis menuliskan judul "Cinta dan Sahabat". Tetapi, yg saya tangkap dari isi cerita, penulis lebih menceritakan kisahnya menuyukai pereempuan yg dikaguminya, sedang saya tidak tahu "peran" sahabat yang dimaksud di judul. Mungkin, hanya sebatas ditraktir untuk memberi no.HP nya? Itupun hanya diceritakan di part 1. Di part 2, sahabat yang dimaksud tidak muncul lagi. Sewaktu saya membaca judulnya, yang terbersit di pikiran saya adalah bisa cinta segitiga, bisa kegalauan penulis yang sedang jatuh cinta tetapi sahabatnya melarang ia pacaran, atau sebagainya. Jadi, antara judul dan isi cerita saya pikir tidak sinkron. Selain itu, saya tidak menemukan klimaks dari cerita tsb. Apakah cewek yang ditaksir itu "ditembak" atau malah ditikung teman sendiri atau gmn? Saya pikir jalan ceritanya hanya mengambang saja. Si cowoknya suka sama ceweknya, tapi tidak dijelaskan di situ, apakah hubungan yang semula "teman" meningkat "bukan hanya sekedar teman"? Pembaca bisa dibuat bingung. Yang kedua, unruk ukuran cerita cinta, ceita semacam ini sudah terlalu mainstream. Bukan karena cerita cintanya, tetapi lebih karena jalan ceritanya. Saya tahu maksud dari cerita ini, yaitu penulis ingin menceritakan bahwa ia jatuh cinta thdp cewek yang dikaguminya. Tetapi, yang disayangkan, penulis sudah menyampaikan maksud cerita tersebut di awal cerita. Ini bisa membuat pembaca2 yang kritis, bisa menebak alur dan isi ceritanya. Bila begitu, lanjutan cerpen bisa tak menarik lagi utk dibaca. Maksud cerita bisa dijadikan sebagai klimaks dari cerita tsb. Dan itu bisa ditampilkan di tengah atau bahkan akhir cerita sehingga dari awal pembaca terus dibuat interest untuk melanjutkan membaca. Di awal2, penulis bisa membuat pembaca tidak tahu bahwa mereka sdg membaca cerita cinta. Bisa dibuat lebih "mensastra", jika mengacu pada istilah jurnalistik akhir2 ini. Atau bgmn lah, tergantung imajinasi penulis. Selain itu, cerita2 spt ini juga sudah terlalu mainstream, karena semua org sy pikir bisa membuat cerita seperti ini. Bahkan, salah satu stasiun TV swastra sdh sering mengangkat cerita2 seperti ini ke dalam bentuk FTV atau sinetron pendek. Jadi, saya harap penulis bisa mengubah cerita cinta ini lebih ke dimensi yang lain tanpa mengubah alur ataupun isi cerita. Yang ketiga untuk penggunaan bahasa. Kita sebagai orang bahasa, harusnya menjadi pelopor penggunaan Bhs. Indonesia yang baik dan benar. Dlm cerita ini, byk saya temukan kata2 tidak baku dan penggunaan EYD yang salah. Contohnya, penggunaan kata2 'tumben' atau 'ngapain'. Mungkin penulis bisa berdalih ini cerita gaul yang dibaca anak2 muda sehingga penggunaan kata2 baku ataupun EYD tidak perlu diperhatikan. Tetapi, tdk bisa begitu. Boleh cerita gaul atau hitz ataupun apalah istilahnya, tetapi penggunaan kata dan kalimat Bhs. Indonesia yg baik dan benar harus menjadi prioritas utama. Sedangkan yang terakhir, saya tidak tahu arti 'dicengin'. Penulis diperbolehkan memakai kata itu di dalam tulisannya, tetapi di akhir cerita ia perlu menjelaskan arti kata itu dgn diberi tanda bintang kecil atau bagaimana lah bentuknya. Mengingat kata itu merupakan bahasa daerah yang tdk semua org tahu. Begitu saja masukan, kritik, dan saran dari. Saya tdk bermaksud memojokkan penulis, tetapi justru ingin penulis mengembangkan ceritanya mjd lebih baik. Terima kasih.

    ReplyDelete
  2. kunjungan pertama saya Disini
    Seru juga cerpennya :)

    ReplyDelete