Aku Ingin Menjadi Biarawati


Ilustrasi: pinterest.com


Theresia Alia namanya. Aku biasa memanggilnya, Lia. Pertemuan pertama kami adalah saat pendaftaran masuk SMA. Tingginya 160 cm, 6 cm lebih rendah dariku. Berat badannya 52,5 kg, 8 kg lebih ringan dariku. Kulitnya putih pucat. Matanya bening. Sorot matanya yang teduh memberi kesan bahwa dia mampu bersahabat dengan siapa pun. Rambutnya yang panjang, sering dibiarkan diurai ke belakang. Lesung pipi kanannya selalu tampak saat ia tersenyum. Lia pandai dalam pelajaran Biologi. Menurutku, ia cantik, cekatan, sekaligus terampil. Aku menyukainya, meski dia agak cerewet.
Sore ini, ada ratusan orang di Pantai Terbaya. Cuaca cerah menyebabkan banyak orang ingin berlama-lama menikmati suasana pantai. Tidak hanya bujang gadis yang bersenda gurau menikmati indahnya pantai, ada banyak orang tua yang bermain bersama. Ada anak-anak balita yang mandi di laut yang dangkal menggunakan pelampung. Ada juga beberapa pemuda yang sibuk menimbun seorang pemuda lainnya  dengan pasir. Orang-orang tampak sangat bahagia.
 “Koran.. koran.., TTS, BH. Koran..! TTS..! BH..! Koran! TTS! BH!” seru seorang bocah laki-laki berusia sekitar 10 tahun, memelas, menarik orang untuk membeli dagangan (koran, teka-teki silang, dan buku humor) di tangannya.
“Saya beli BH-nya satu, ya!” kataku, sambil mengambil dompet. “Berapa harganya?”
“Tiga ribu, Mas,” sahut anak kecil itu.
“Ini uangnyakataku sambil memberikan uang kertas lima ribu. “Kembalinya untukmu!”
“Terima kasih. Terima kasih, Mas!” jawabnya penuh semangat.

* * *
“Kamu punya pena?”
“Untuk apa?”
“Nulis namamu di hatiku”

“Kamu punya uang receh gak?”
“Untuk apa?”
“Bayar parkir hatiku di hatimu”

“Tahu gak, perjuangan terbesar ibu kamu?”
“Nggak... apa tu?”
“Perjuangan terbesar ibumu untukmu adalah mengambil bulan sabit dan meletakkannya di 
senyummu.”

“Kalo perjuangan terbesar ayah untukmu apa?”
“Gak tahu juga”
“Perjuangan terbesar ayahmu adalah mengambil dua bintang di langit dan meletakkanya di 
matamu”

“Tahu nggak, mengapa ada ruas-ruas di jari kita?
“Enggak”
“Agar kita dapat bergandengan tangan”
“Hmmmm...gombal!!.Hahahaha
* * *

Kami tertawa terbahak-bahak, seperti tidak punya beban hidup. Tertawa lepas. Itulah yang kami lakukan setelah melihat isi BH (buku humor) di atas sambil duduk di salah satu kursi  dekat pantai.
“Ngomong-ngomong, kamu pengen jadi apa sih?” kata Lia serius, memecah suasana tawa.
Aku tak tahu pasti, mengapa ia tiba-tiba bertanya itu. Otakku berputar, mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi sepekan terakhir. Tampaknya tidak ada pelajaran yang mengajak siswa untuk berpikir tentang cita-cita.
 “Kamu pengen jadi apa?” ucap Lia serius, mengulang pertanyaannya.
“Kamu kenapa sih kok tiba-tiba tanya itu?” Aku balik bertanya.
 Lia diam sejenak. Barangkali, ia sedang menyusun jawaban. “Dua minggu lalu aku mengikuti rekoleksi OMK. Dalam rekoleksi itu tiap peserta diminta untuk mengingat kembali cita-citanya. Hal itu penting, sebab cita-cita akan menarik seseorang untuk berjuang meraihnya, mempersiapkan diri sebaik mungkin sejak saat ini. Dalam rekoleksi itu, peserta juga diajak untuk mau bermimpi menjadi seorang biarawan, biarawati atau imam.” Lia bercerita dengan semangat.
“Oooh, begitu,Aku berusaha menanggapi cerita Lia
“Iya…  Pertanyaanku tadi dijawab dong!” teriak Lia
“Aku pengen menjadi orang yang bahagia” jawabku spontan. “Kalo kamu?”
“Hmmmmm... denger ya….. aku mau jujur...,Lia menjawab dengan serius. “Saat aku kelas 2 SD, ada seorang suster yang bertanya padaku tentang cita-cita. Dengan mantap, aku katakan bahwa aku mau jadi biarawati
“Terus?!” potongku penasaran.
“Aku emang pengen banget jadi biarawati” jawab Lia.
“Terus?!”
“Sampai sekarang, aku masih pengen biarawati,” nada suara Lia mulai mengeras
“Terus?!”
“Gak tahu yaaa, kenapa aku pengen banget jadi biarawati. Aku tidak tahu pasti siapa itu biarawati dan bagaimana hidupnya. Namun, saat aku berjumpa dengan biarawati, aku selalu merasa gembira, damai, dan senang. Sejak saat itu, ada keyakinan yang muncul di benakku, aku ingin memakai jubah dan membagikan hosti seperti biarawati lainnya. Aku ingin bercerita di depan umat, ingin membagikan komuni, ingin mengucap janji di depan altar, mengunjungi umat, menghibur umat yang berduka, dan mendoakan umat yang sakit. Tampaknya, hidup seorang suster diabdikan untuk sesama secara total dan tulus ikhlas.
“Kamu gak ingin nikah?” tanyaku memotong cerita.
 “Ingin! Aku perempuan normal kok. Aku tertarik padamu. Ingin selalu bersamamu. Aku juga ingin kita menikah, membentuk sebuah keluarga yang bahagia. Aku ingin…...”
“Lalu, kenapa kamu ingin jadi biarawati?”
“Aku sungguh merasakan ada kebahagiaan dalam diri seorang biarawati. Lihat aja, ke manapun mereka pergi banyak umat yang memberi salam, menghormati, dan menghargai! Aku ingin hidup seperti itu! Aku…
“Apakah jika kamu menikah dan hidup berkeluarga, kamu tidak bahagia?” tanyaku memelan.
Tentu aku akan bahagia, Lia menjawab sambil tersenyum.
“Jadi biarawati itu tidak boleh nikah! Tidak boleh tidur dengan laki-laki! Apa kamu tahan? Apa kamu tidak lihat ada banyak biarawati yang keluar, tidak betah, karena tidak bisa mengendalikan nafsu? Apa orang tuamu tidak malu jika kamu dihamili seorang laki-laki nantinya?!” Aku sedikit emosi.
 “Entahlah,” jawab Lia mengalah. Ia tak mampu menjawab pertanyaanku yang mengebu. Dia hanya menunduk. Matanya terpejam. Otaknya mencoba berpikir mencari jawab atas pertanyaanku.
Angin pantai terus menerpa wajah kami. Ombak di laut terus berkejaran, berlomba-lomba mencapai bibir pantai. Aku juga menunduk. Entah apa yang ada di benakku saat ini. Mengapa bisa aku bertanya seperti itu? Apakah Lia sungguh-seungguh mencintaiku dan tak ingin berpisah denganku?
Liaa...,” kataku sambil memegang erat tangannya.
“Yaaa..,kata Lia pelan.
“Aku mendukungmu menjadi biarawati,”  jawabku lirih.
“Maksudmu?”
“Aku senang kamu punya keinginan menjadi biarawati. Aku rela. Aku bangga jika kelak kamu benar-benar menjadi biarawati. Aku tidak mau menghalangimu. Walau mungkin hatiku akan sakit. Aku akan berusaha memahami, bahwa cinta tak harus memiliki. Aku mencintaimu, Lia”. Mataku berkaca-kaca, nyaris menitikkan air mata.
“Makasih yaa.,jawab Lia sambil menggenggam erat kedua tanganku. Ada ketulusan yang kurasakan. Ada cinta yang total. Semuanya berbaur. Ingin rasanya aku memeluknya erat, tapi keinginan ini kutahan. Aku mencoba menyadari, di mana kami saat ini.
Mulutku terkatup. Tenggelam dalam perasaan tak menentu. Mata berkelana menatap burung-burung camar yang berterbangan di atas laut. Batinku berputar-putar mencari makna dari peristiwa ini. Otakku terus mencari sesuatu. ”Mengapa aku terlahir di dunia? Mengapa aku bertemu Lia? Mengapa aku jatuh hati padanya? Mengapa ia juga mencintaiku? Mengapa begini?... Mengapa?” gumamku dalam hati. Otakku dihantam seribu tanya? Aku tak mampu menjawab.
Kami saling berpandangan, mata kami beradu. Aku menatap matanya yang bening. Aku bahagia. Bahagia sekali. Aku ingin berlama-lama di sini, bersama Lia. Menikmati kebersamaan, kemesraan dan suasana pantai.
 “Christo... yuuk kita pulang?” pinta Lia tiba-tiba, sambil merapikan rambutnya.
“Ayoo!” jawabku mantap. Aku bergegas berdiri, menggandeng tangan Lia untuk berjalan meninggalkan pantai. Kami pulang.
Sepanjang perjalanan pulang, Lia banyak diam. Di motor, ia memelukku erat dari belakang. Seolah mengatakan, aku tak mau melepaskanmu. Tidak seperti biasanya. Ia malu-malu saat naik motor denganku. Pikiran dan hatiku berupaya memahami perasaannya. Aku terus konsentrasi penuh dalam mengemudikan motor. Kecepatan motor kupacu tidak melebihi 40 km/jam, walaupun jalan tidak ramai. Kubiarkan motor atau mobil lain mendahului. 
Tiba-tiba dari arah berlawanan, sebuah modil sedan melaju dengan kecepatan tinggi di jalur yang kulewati, menyalip sebuah truk yang berjalan lambat. BRAAAAAAAKKKKK. Aku tidak sempat menghindar. “Liaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!” jeritku spontan.    

Penulis: Maria Novenia

Post a Comment

0 Comments