Theresia Alia namanya. Aku
biasa memanggilnya, Lia. Pertemuan
pertama kami adalah saat pendaftaran
masuk SMA. Tingginya 160 cm, 6 cm lebih rendah dariku. Berat badannya 52,5 kg, 8 kg lebih ringan dariku. Kulitnya putih pucat.
Matanya bening. Sorot matanya yang teduh memberi kesan bahwa dia mampu bersahabat dengan siapa pun. Rambutnya yang
panjang, sering dibiarkan
diurai ke belakang. Lesung pipi kanannya selalu tampak saat ia tersenyum. Lia
pandai dalam pelajaran Biologi. Menurutku, ia cantik, cekatan, sekaligus terampil. Aku
menyukainya, meski dia agak
cerewet.
Sore ini, ada ratusan orang di
Pantai Terbaya. Cuaca cerah
menyebabkan banyak orang ingin berlama-lama menikmati suasana pantai. Tidak
hanya bujang gadis yang bersenda gurau menikmati indahnya pantai, ada banyak orang
tua yang bermain bersama. Ada anak-anak balita
yang mandi di laut yang dangkal menggunakan pelampung. Ada juga beberapa pemuda yang sibuk menimbun seorang pemuda lainnya dengan pasir. Orang-orang tampak sangat bahagia.
“Saya beli BH-nya satu,
ya!” kataku, sambil mengambil dompet. “Berapa harganya?”
“Tiga ribu, Mas,” sahut
anak kecil itu.
“Ini uangnya” kataku sambil memberikan uang
kertas lima
ribu. “Kembalinya untukmu!”
“Terima kasih. Terima kasih, Mas!” jawabnya penuh semangat.
* * *
“Kamu
punya pena?”
“Untuk
apa?”
“Nulis
namamu di hatiku”
“Kamu
punya uang receh gak?”
“Untuk
apa?”
“Bayar
parkir hatiku di hatimu”
“Tahu
gak, perjuangan terbesar ibu kamu?”
“Nggak...
apa tu?”
“Perjuangan
terbesar ibumu untukmu adalah mengambil bulan sabit dan meletakkannya di
senyummu.”
“Kalo
perjuangan terbesar ayah untukmu apa?”
“Gak
tahu juga”
“Perjuangan
terbesar ayahmu adalah mengambil dua bintang di langit dan meletakkanya di
matamu”
“Tahu
nggak, mengapa ada ruas-ruas di jari kita?
“Enggak”
“Agar
kita dapat bergandengan tangan”
“Hmmmm...gombal!!.Hahahaha”
* * *
Kami tertawa
terbahak-bahak, seperti tidak punya
beban hidup. Tertawa lepas. Itulah yang kami lakukan setelah melihat isi
BH (buku humor) di atas sambil
duduk di salah satu kursi dekat
pantai.
“Ngomong-ngomong, kamu pengen
jadi apa sih?” kata Lia
serius, memecah suasana tawa.
Aku tak tahu pasti, mengapa ia
tiba-tiba bertanya itu. Otakku berputar, mengingat peristiwa-peristiwa yang
terjadi sepekan terakhir. Tampaknya tidak ada pelajaran yang mengajak siswa
untuk berpikir tentang cita-cita.
“Kamu kenapa sih kok tiba-tiba
tanya itu?” Aku balik bertanya.
“Oooh, begitu,” Aku berusaha menanggapi cerita
Lia
“Iya… Pertanyaanku tadi dijawab dong!”
teriak Lia
“Aku pengen menjadi orang yang
bahagia” jawabku spontan.
“Kalo kamu?”
“Hmmmmm...
denger ya….. aku mau jujur...,” Lia menjawab dengan serius. “Saat aku kelas 2 SD, ada seorang suster
yang bertanya padaku tentang
cita-cita. Dengan mantap, aku katakan bahwa aku mau jadi biarawati
“Terus?!” potongku penasaran.
“Aku
emang pengen banget jadi biarawati”
jawab Lia.
“Terus?!”
“Sampai sekarang, aku masih pengen biarawati,” nada suara Lia mulai mengeras
“Terus?!”
“Gak
tahu yaaa, kenapa aku pengen banget jadi biarawati. Aku tidak tahu
pasti siapa itu biarawati dan bagaimana hidupnya. Namun, saat aku berjumpa dengan biarawati, aku selalu merasa gembira,
damai, dan senang. Sejak saat itu, ada keyakinan
yang muncul di benakku, aku ingin
memakai jubah dan membagikan hosti seperti biarawati lainnya. Aku ingin bercerita
di depan umat, ingin membagikan komuni, ingin mengucap janji di depan altar, mengunjungi umat, menghibur umat
yang berduka, dan mendoakan umat
yang sakit. Tampaknya, hidup seorang suster diabdikan untuk sesama secara total dan
tulus ikhlas.”
“Kamu
gak ingin nikah?” tanyaku
memotong cerita.
“Ingin!
Aku perempuan normal kok. Aku tertarik padamu. Ingin selalu
bersamamu. Aku juga ingin kita menikah, membentuk sebuah keluarga yang bahagia.
Aku ingin…...”
“Lalu, kenapa kamu ingin jadi biarawati?”
“Aku sungguh merasakan ada
kebahagiaan dalam diri seorang biarawati. Lihat aja, ke manapun mereka pergi banyak umat yang memberi
salam, menghormati, dan
menghargai! Aku ingin hidup seperti itu! Aku…”
“Apakah jika kamu menikah
dan hidup berkeluarga, kamu tidak bahagia?” tanyaku
memelan.
“Tentu aku akan bahagia,” Lia menjawab sambil tersenyum.
“Jadi biarawati itu tidak
boleh nikah! Tidak boleh
tidur dengan laki-laki! Apa
kamu tahan? Apa kamu tidak lihat ada banyak biarawati yang keluar, tidak
betah, karena tidak bisa
mengendalikan nafsu? Apa
orang tuamu
tidak malu jika kamu dihamili seorang laki-laki nantinya?!” Aku sedikit emosi.
“Entahlah,” jawab
Lia mengalah. Ia tak mampu menjawab pertanyaanku yang mengebu. Dia hanya menunduk. Matanya terpejam. Otaknya mencoba berpikir mencari jawab atas pertanyaanku.
Angin pantai terus menerpa
wajah kami. Ombak di laut terus berkejaran, berlomba-lomba mencapai bibir pantai. Aku juga menunduk. Entah apa yang ada di benakku
saat ini. Mengapa bisa aku bertanya seperti itu? Apakah Lia sungguh-seungguh mencintaiku dan tak ingin berpisah denganku?
“Liaa...,” kataku sambil memegang erat tangannya.
“Yaaa..,” kata Lia pelan.
“Aku mendukungmu menjadi
biarawati,” jawabku
lirih.
“Maksudmu?”
“Aku senang kamu punya
keinginan menjadi biarawati.
Aku rela. Aku bangga jika kelak kamu benar-benar menjadi biarawati. Aku tidak mau menghalangimu. Walau mungkin hatiku akan
sakit. Aku akan berusaha memahami, bahwa cinta tak harus memiliki. Aku
mencintaimu, Lia”. Mataku berkaca-kaca, nyaris menitikkan air mata.
“Makasih yaa.,” jawab Lia sambil
menggenggam erat kedua tanganku. Ada ketulusan yang kurasakan.
Ada cinta yang total. Semuanya berbaur. Ingin rasanya aku memeluknya erat, tapi
keinginan ini kutahan. Aku mencoba menyadari, di mana kami saat ini.
Mulutku terkatup. Tenggelam dalam perasaan tak menentu. Mata berkelana
menatap burung-burung camar yang berterbangan di atas laut. Batinku
berputar-putar mencari makna dari peristiwa ini. Otakku terus mencari sesuatu.
”Mengapa aku terlahir di dunia? Mengapa aku bertemu Lia? Mengapa aku jatuh hati
padanya? Mengapa ia juga mencintaiku? Mengapa begini?... Mengapa?” gumamku dalam hati. Otakku dihantam
seribu tanya? Aku tak mampu menjawab.
Kami saling berpandangan, mata kami beradu.
Aku menatap matanya yang bening. Aku bahagia. Bahagia sekali. Aku ingin
berlama-lama di sini, bersama Lia. Menikmati kebersamaan, kemesraan dan suasana
pantai.
“Christo...
yuuk kita pulang?” pinta Lia
tiba-tiba, sambil merapikan rambutnya.
“Ayoo!” jawabku mantap. Aku bergegas berdiri, menggandeng tangan Lia
untuk berjalan meninggalkan pantai. Kami pulang.
Sepanjang
perjalanan pulang, Lia banyak diam. Di motor, ia memelukku erat dari belakang.
Seolah mengatakan, aku tak mau melepaskanmu. Tidak seperti biasanya. Ia
malu-malu saat naik motor denganku. Pikiran dan hatiku berupaya memahami
perasaannya. Aku terus konsentrasi penuh dalam mengemudikan motor. Kecepatan
motor kupacu tidak melebihi 40
km/jam, walaupun jalan tidak ramai. Kubiarkan motor atau mobil lain mendahului.
Tiba-tiba
dari arah berlawanan, sebuah
modil sedan melaju dengan kecepatan
tinggi di jalur yang kulewati, menyalip sebuah truk yang berjalan lambat. BRAAAAAAAKKKKK. Aku tidak sempat menghindar. “Liaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!”
jeritku spontan.
Penulis: Maria Novenia

0 Comments