Perjalanan Menuju Kesuksesan


Dwi, seorang dosen di Universitas Sarjana Wijaya Taman Siswa, Yogyakarta (Dok. Pribadi)



Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan yang sangat penting bagi semua orang di masa depan. Suatu kebanggaan pula apabila melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi melalui jalur prestasi. Namun, bagaimana jika seseorang telah diterima di sebuah universitas tetapi tidak sesuai dengan jurusan yang diinginkan? Hal tersebut lah yang dialami oleh Dwi Wijayanti seorang dosen di Universitas Sarjana Wijaya Taman Siswa (UST), Yogyakarta.
Saat ditemui di kafe Little Wish pada Kamis (17/05) silam, ia menceritakan pengalaman saat ia diterima di program studi Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tahun 2007 lewat jalur Penelusuran Bibit Unggul (PBU). Ia mengaku bahwa sebenarnya kurang begitu yakin untuk memilih di prodi PKN. Namun, ia memiliki komitmen untuk menerima dan menjalani perkuliahan supaya selesai tepat waktu demi membahagiakan orang tua. “Ibarat orang kalau sudah basah lebih baik mandi sekalian,” tutur wanita yang kerap disapa Dwi.

Pengalaman, Beasiswa dan Prestasi
            Pada awal kuliah, Dwi sudah berjuang mencari beasiswa untuk meringankan beban orang tua yang bekerja sebagai petani. Namun, Dwi harus mengalami kegagalan itu dengan tidak menerima beasiswa pada awal perkuliahannya. Tetapi, ia tidak berhenti dan putus asa untuk berjuang sampai mendapatkan beasiswa. Hingga akhirnya, ia berhasil meraih beasiswa melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). “Awalnya saat mengajukan beasiswa lewat program PKM sempat ditolak dua kali dan akhirnya mencoba lagi sampai berhasil diterima oleh pihak universitas,” kenangnya.
 Berkat kegigihan dan tekad yang kuat, Dwi mendapatkan beasiswa sampai dinobatkan sebagai seorang mahasiwa berprestasi. Ia mengatakan menjadi mahasiswa yang berprestasi tidaklah gampang karena harus melewati jalan yang penuh dengan lika-liku demi mengejar cita-cita luhur. Saya belajar dari setiap pengalaman untuk lebih memperbaiki diri dan membawa pada kesuksesan. Alhamdulillah, semua proses yang dilalui menuai hasil yang memuaskan lewat prestasi sebagai Perempuan Berperestasi Tingkat Fakultas,” ceritanyaBegitu pula saya menjadi salah satu-satunya mahasiswa dari prodi PKN yang menerima hibah saat menyusun skripsi dan lulus S-1 tepat waktu dengan predikat Cum Laude.”

Menjadi Dosen
            Setelah lulus S-1 dari UNY, di tahun 2012, ia langsung melanjutkan studi magister jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di UNY. Setelah lulus pada 2014, ia melamar pekerjaan di Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa Yogyakarta yang pada saat itu sedang membuka lowongan pekerjaan. Namun pada saat itu, Dwi belum memegang ijazah S-2 dan  hanya bermodalkan surat keterangan lulus dari universitas. Tidak menjadi masalah, ia pun mengikuti lima serangkaian tes dan diterima menjadi dosen di program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di UST. Selain aktif sebagai dosen, Dwi juga dipercaya mengemban amanah sebagai sekretaris di Pusat Studi dan Pusat Karir (Dewantara Pusat Karier Center) di UST.
            Ketika ditanya mengenai pandangan pendidikan di Indonesia, Dwi menilai pendidikan di Indonesia dari segi kebijakan pemerintah dan perundang-undangan sudah cukup baik, tetapi pendidikan itu harus ada konsep yang jelas dan teratur. “Saya menyarankan agar pendidikan di Indonesia berjalan bersama membangun generasi-generasi muda untuk nusa dan bangsa. Pendidikan bukan hanya tentang nilai tetapi bagaimana kita membentuk perilaku siswa (mahasiswa) agar lebih baik,” tutupnya mengakhiri percakapan.

Penulis : Marselina Japa
Editor  : Krisna Aditya Putra

Post a Comment

0 Comments