![]() |
| Ilustrasi: anthropogonie.tumblr.com |
Tidak akan
pernah bisa rindu itu dipahami. Seperti samudra yang tak terhitung megaliter
airnya. Namun, lembut dan keindahannya terasa.
Aku
ingin berbicara perkara rindu yang selama ini menghadirkan keindahan. Tak
pernah habis berbicara pada muka kusut penuh luka ini. Hanya pikiran yang
berkelana mencari makna, meskipun waktu tak pernah memberikannya.
Aku
teringat kata Mbah Nun soal makna yang intinya adalah jangan mencari makna,
tetapi berusahalah memaknai apa saja peristiwa yang terjadi.
Otak
manusia yang diberi anugerah akal memiliki fungsi berpikir dengan akal sehatnya
untuk memaknai apa saja. Bebas.
Seperti aku
dan caraku merindu.
Rindu
punya berjuta cara untuk dimaknai. Rindu tak terbatas. Jika kau temukan rindu
yang terbatas. Maka cara berbikirmulah yang membatasinya.
Rindu
itu seperti gelap yang merindukan cahaya. Tapi tak sepenuhnya menginginkan
cahaya. Bahkan gelap melarang cahaya datang agar gelap tetap menjadi gelap yang
rindu kepada cahaya.
Ia
seperti hujan yang rindu tanah. Tak mampu ia basahi semua permukanan tanah di
muka bumi ini. Maka hanya setetes saja ia menyentuh. Hanya sedilit saja ia mampir. Selepas itu reda.
Seperti
pantai yang rindu ketenangan. Meski ombak bergulung-gulung datang. Ia tetap
sabar tak beranjak dari bibir.
Di
mana saja saja kaki berpijak di sana rindu kutemu. Ketika tangan meraba, di
sana rindu duduk tersipu. Ketika kulit merasa, di sana rindu menyentuh. Ketika
telinga mendengar di sana rindu melagu. Ketika mata memandang, di sana rindu
tersenyum. Ketika mulut mengucap di sana rindu mengecup. Ketika hidung
menghirup, di sanalah rindu bersemayam dengan harum semerbaknya.
Pernahkah
kau dengan ucapan Sang Penyair Legendaris Kahlil Gibran, Ketika ia mewedarkan
perkara keindahan kepada seorang penyair?
Sang
pernyair mengajukan permintaan kepada Sang Nabi untuk menguraikan soal
keindahan?
Sang
Nabi berkata kepada rakyat Orphalese, “O, Rakyat Orphalese, Keindahan adalah
kehidupan, di kala dia menyingkapkan cadar dari wajah keramatnya.”
Beginilah
rindu. Indah.
Aku berusaha
memahami ‘keindahan adalah kehidupan’.
Setiap
gelap adalah indah. Setiap sunyi adalah indah. Setiap cahaya adalah indah.
Setiap riuh adalah indah. Setiap hal dalam hidup jika pandai untuk dimaknai,
maka akan muncul keindahan di dalamnya. Hanya saja akal manusia butuh materi
dan alat berpikir untuk bisa sampai pada keindahan tersebut.
Lantas apa
hubunganya dengan rindu?
Jika
keindahan adalah kehidupan, maka rindu adalah nafas kehidupannya, atau rindu
adalah ruang kehidupan itu sendiri.
Rindu
adalah ruang yang menampung berbagai macam keindahan yang terdapat dalam
kehidupan.
Seorang
merindukan rumah dan keluarga ketika jenuh dengan pekerjaan. Ia lantas
menikmati keindahan bersama keluarga dan sadar bahwa itulah kehidupan. Namun ia
juga rindu mendapat gaji agar keluarga tetap bisa dinafkahi untuk terus hidup
dalam keindahan ruang rindu.
Aku
pun berusaha memaknai rindu melalui momen apa saja yang ku jumpai. Seperti
halnya beberapa peristiwa alam yang terjadi di nusantara, Lombok, Palu dan
Donggala, Lion JT610.
Ini
adalah kerinduan Sang Maha Pencipta, Gusti
Ingkang Murbeng Dumadi pada hamba-hambanya. Adanya fenomena penjemputan
massal melalui peristiwa sunnatullah gempa dan tsunami dan masalah pesawat.
Ini
juga merupakan kerinduan Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Rahman dan Rahim kepada wakilnya di bumi, Khalifah, untuk kembali pada
kodratnya sebagai penjaga keindahan di bumi. Memayu Hayuning Bawana. Maka diberikannya kita sebuah peringatan
tentang kasih sayangnya yang Maha Luas.
Gusti Kang
Akarya Jagad Saisine bersemayam
dalam ruang rindu bersama kita. Manusia yang tengah bertengkar dalam rindu akan
kemurnian dari keindahan cinta.
Rindu
adalah makna yang bersembunyi di balik sunyi. Berjalan di tengah sepi.
Bersemayam dalam diri. Berasal dari hati nurani. Ia abadi menjadi api yang
membakar habis angkara murka. Tanpa
rindu manusia bukanlah manusia.
Jogja, 31 Oktober 2018
Penulis: Waluyo Adi
Santoso

0 Comments