![]() |
| Ilustrasi: Deskgram |
Becak
tua bergerak menyusuri jalanan Yogyakarta. Lelaki tua mengayuh pedalnya dengan
sekuat tenaga. Beberapa bagian tubuhnya telah dimakan karat, lukisan
pemandangan alam pada kiri dan kanannya telah terkelupas, joknya tak seempuk
kali pertama becak itu ada, namun kursi penumpang dan atapnya masih baik
keadaannya. Becak itu dimiliki sekitar sepuluh tahun yang lalu, saat si pemilik
berhenti dari aktivitas mengajarnya. Kini, lelaki tua menghabiskan sisa-sisa hidupnya
bersama teman setianya, becak tua.
Lelaki
tua menghabiskan hari bersama becaknya sejak pukul enam pagi lalu ia akan
pulang pada tengah malam. Bisa juga ia tidak pulang. Lagi pula, di rumahnya
tidak ada siapa-siapa. Tidak akan ada yang merindukannya atau menyuruhnya untuk
cepat-cepat pulang.
Ia
merogoh saku celananya dan menemukan uang lima ribuan. Sekali lagi, Tuanku Imam
Bondjol yang menolongnya. Mungkin saja memang belum waktunya untuk bertemu
Soekarno-Hatta.
Lelaki
tua mebawa becaknya dari rumah menuju pasar Kranggan dengan harapan bisa mendapat beberapa penumpang.
“Pak
Mar!” teriak seorang wanita tua dari sisi jalan.
Lelaki
tua menepikan becaknya.
“Ke
pasar ya, pak!” seru wanita itu dan langsung duduk di kursi penumpang.
Lelaki
tua itu tersenyum. Ia kembali mengayuh becaknya dengan harapan bahwa hari ini
hidupnya akan dicukupkan.
Setelah
mengantar penumpang langganannya, kini ia memiliki tiga lembar Tuanku Imam
Bondjol. Ia pun singgah di sebuah warung makan rames tak jauh dari pasar
Kranggan. Warung berdinding anyaman bambu itu sudah ada sejak lelaki tua
menjadi tukang becak. Sejak saat itu pula, warung itu menjadi tempat
langganannya. Ia memarkirkan becaknya di tepi jalan dan memasuki warung
berukuran 3 x 4 meter itu.
“Yu, seperti biasanya ya,” kata lelaki
tua itu.
“Ya,
sebentar,” jawab Yu Menik.
Si
pemilik warung lalu mengantarkan sepiring nasi beserta lauknya dan segelas teh
panas. “Kok tumben jam segini sudah ke warung.”
“Ndak boleh tak payuni?” tanya balik
si lelaki tua.
“Ya
boleh. Tapi kan biasanya agak siangan baru ke sini,” kata Yu Menik sambil mengelap meja bekas pengunjung sebelumnya.
“Yu, nasi telur sama es teh, ya.” Seorang
lelaki bertopi masuk dan duduk di samping lelaki tua.
“Istrimu apa ndak
masak, Win?” kata Yu Menik sambil
menyiapkan pesanannya.
“Ndak yu, istriku baru marah. Dia itu minta kulkas,
tapi mau beli pakai apa kalau ndak ada
duitnya.”
“Kepingin
tetangganya lagi?” tanya Yu Menik.
“Iya, Yu.
Padahal belum lama baru beli TV, eh, sudah minta yang lain lagi.”
“Kayak gitu itu diberi pengertian, ndak semua yang dia mau itu harus selalu dituruti. Itu juga
gara-gara kepingin tetangganya. Kalau
tetanggamu ada yang nikah, apa ya istrimu kepingin
nikah juga,” kata Yu Menik sambil
mengantarkan makanan untuk lelaki bertopi itu.
Lelaki bertopi itu terkekeh. “Ya ndak gitu juga yu.” Ia kemudian
menyantap makanannya.
“Keluar jam berapa tadi, Pak Mar?” tanya lelaki bertopi
pada lelaki yang 30 tahun lebih tua darinya.
“Jam enam, Win,” katanya sambil menyeruput teh panasnya.
“Sudah dapat pelanggan?” tanya lelaki bertopi.
“Sudah Win. Lumayan, bisa untuk
sarapan.”
Sambil mengunyah makanannya, lelaki bertopi berkata, “Saya
malah belum sama sekali, Pak Mar. Padahal tanggungan banyak, untuk bayar
kontrakan, listrik, makan, uang sekolah, apalagi kalau istri banyak maunya
kayak gini. Padahal saya kerjanya cuma narik becak, istri cuma bantu-bantu di
tempat orang. Buat hidup sehari-hari saja kurang sebenarnya.”
“Sebenarnya cukup, Win, kalau dicukup-cukupkan,” ujar
lelaki tua dengan suaranya yang berwibawa, tenang namun menyabarkan.
“Istrimu itu kemakan gengsi, Win. Padahal orang seperti
kita ini kan juga ndak terlalu butuh
kulkas. Memangnya mau diisi apa?” celetuk Yu
Menik.
***
Becak tua bergerak di jalanan ramai tengah kota,
perlahan, tanpa arah tujuan, mencari siapa saja yang membutuhkan. Satu, dua,
tiga, dan banyak motor melewatinya. Meninggalkan kepulan asap karbon monoksida
untuk dihirup siapa saja yang ada di belakangnya. Dihantam terik mentari pada
tengah hari, roda-roda becak tua tetap kuat bergulir menyusuri jalanan kota
Jogja.
Sesekali
becak tua berpapasan dengan becak lainnya. Kebanyakan adalah becak yang sudah
tidak manual lagi. Becak-becak itu sudah menjadi satu dengan mesin motor-motor
lama berkapasitas 100 cc. Seolah pada zaman ini, mengayuh sudah menjadi cara
bekerja yang kuno. Barangkali, bentor
merupakan percampuran antara budaya dan kemajuan teknologi yang ada. Tak perlu
lelah lagi mendayung dengan kaki, namun harus rela mengeluarkan sedikit uang
untuk membeli minyak bumi.
Lelaki tua menepi untuk meminum beberapa teguk air putih.
Saat hendak menjalankan becaknya lagi, tiba-tiba ia dihampiri oleh seorang anak
kecil bertubuh agak gemuk dan berkulit cerah. Ia mengenakan seragam Sekolah
Dasar (SD) dan menggendong tas cukup besar untuk ukuran anak sekecil dirinya.
“Pak, tolong antar aku pulang, ke Babarsari,” ucap anak lelaki
itu.
“Orang tua adek
di mana?” tanya lelaki tua.
“Ayah sama bunda baru sibuk kerja jadi nggak bisa jemput. Bapak bisa antar
pulang? Rumahku di Babarsari.”
“Ya sudah, naik saja,” kata lelaki tua lalu turun dari
becaknya.
Becak tua dimiringkan ke depan lalu si anak kecil naik
sambil memegangi pinggiran becak. Anak itu duduk dengan tenang dengan tas besar
di pangkuannya. Sepanjang perjalanan, suara denyitan rantai becak kalah dengan
suara anak kecil yang tak henti-hentinya mengajak lelaki tua berbicara. Deru
suara kendaraan yang melintas di sekitar mereka, seolah hanya menjadi musik
latar.
Tak
ingin memberi jeda dalam pembicaraannya, anak kecil itu pun bertanya, “Bapak
suka menjadi tukang becak?”
Lelaki
tua terdiam. Sebelumnya, ia langsung menjawab tiap pertanyaan yang dilontarkan anak
lelaki itu.
“Bapak,
bapak suka menjadi tukang becak?” ulang si anak kecil, berpikir bila lelaki tua
tak mendengarnya.
Lelaki
tua tak pernah berpikir apakah ia suka atau tidak menjadi tukang becak. Yang ada
di benaknya adalah pekerjaan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan hidupnya
sehari-hari.
Sepuluh
tahun yang lalu, sebelum ia pensiun, istrinya meninggalkannya tanpa mungkin
akan kembali. Ia tak memiliki semangat untuk memperjuangkan hidup seorang diri.
Beberapa waktu setelah pensiun, ia bertemu dengan teman lamanya yang berprofesi
sebagai tukang becak. Uang pensiun yang didapatkannya, ia gunakan untuk membeli
sebuah becak baru. Menghabiskan waktu dengan terus bergerak, melakukan sesuatu,
bertemu dengan orang baru, setidaknya dapat mengurangi kesedihan dihatinya. Ia
tak pernah berpikir, bahwa hidupnya kini menjadi lebih baik dari saat ia
kehilangan wanita yang sangat dicintainya. Becak tua telah menjadi teman
hidupnya, rekan berjuangnya.
Lelaki
tua itu tersenyum tanpa bisa dilihat oleh anak kecil di depannya. “Ya, bapak
sangat suka menjadi tukang becak.”
***
Bulan telah menjemput malam. Sudah pukul sembilan, lalu lalang
orang dan kendaraan masih meramaikan jalanan. Becak tua bersandar di bahu jalan
menemani lelaki tua dalam remang dan dinginnya malam. Menunggu penumpang
sekaligus mengistirahatkan diri dari lelahnya hari. Lelaki tua duduk di kursi
penumpang, menyandarkan punggungnya ke belakang dengan mata terpejam.
Siang
tadi, lelaki tua mengantar seorang wanita paruh baya. Tepatnya setelah ia mengantar
seorang anak lelaki kecil.
“Pak,
pak, pak,” panggil wanita tersebut dengan suara cemas. “Antarkan saya ke rumah
sakit Hardjolukito ya, pak,” katanya tergesa.
Tanpa
negosiasi yang panjang perihal bayaran, lelaki tua pun memiringkan becaknya dan
kembali pada kemudinya. Kakinya mulai mengayun dan roda-roda becak bergerak.
Sesekali ia membunyikan bel pada kendaraan yang begerak lambat menghalangi jalannya.
Becak tua berangkat dari Babarsari dan berhenti di lampu merah pertigaan Janti.
“Siapa
yang dirawat di rumah sakit, bu?” tanya lelaki tua.
“Anak
saya pak, tadi dapat telepon katanya dia kecelakaan. Padahal biasanya dia
hati-hati bawa motornya, lha ini kok
bisa sampai kecelakaan.” Suara wanita paruh baya itu terdengar gemetar.
“Berdoa
bu, semoga baik-baik saja.”
Lampu
berubah menjadi hijau. Becak tua kembali bergerak menuju arah Selatan, bersiap
melewati tanjakan. Lelaki tua ingat bahwa jalan di bawah jembatan Janti tidak
dapat dilalui lagi. Lelaki tua menyeka keringat yang ada di wajahnya dengan handuk
kecil di pundaknya. Kakinya bekerja keras mendorong pedal agar roda terus
bergerak ke depan. Di antara kendaraan lain yang melaju, becak tua tidak ingin
tampak lemah. Perlahan namun pasti, becak tua sudah semakin dekat dengan tempat
yang dituju.
Gelap
malam tetap sama, yang membedakan hanyalah waktu yang terus bergerak maju. Seorang
lelaki bertopi turun dari becaknya untuk menyuruh pulang lelaki tua yang
tertidur di becaknya.
“Pak Mar. Pak Mar,” panggilnya sambil menepuk pelan
pundak lelaki tua. “Pak Mar.”
Namun lelaki tua tidak bereaksi.
“Pak Mar. Pak Mar. Pak Mar.” Lelaki bertopi terus
memanggilnya dengan panik. Berulang kali ia menepuk pundak lelaki tua, lebih
kencang dari sebelumnya. Tetapi lelaki tua bergeming.
Raut wajah lelaki bertopi berubah menjadi cemas. Ia
terdiam sesaat lalu dengan gemetar ia mendekatkan jarinya di depan hidung
lelaki tua. Ia tak merasakan apa pun. Lalu ia menyentuh dada lelaki tua dan tak
menemukan apa pun.
“Pak Mar! Pak Mar!” jeritnya menarik perhatian siapa pun
yang ada di sana.
Beberapa orang mulai mendekati becak lelaki tua. Orang-orang
mengerumuninya namun tampak bingung harus melakukan apa. Ada yang mengambil
foto-fotonya untuk diviralkan ke sosial media, ada yang diam dan hanya
menontonnya. Seorang pengendara motor menepi dan masuk ke dalam kerumunan. Ia
segera menelpon ambulance dan
bertanya pada lelaki bertopi mengenai kronologi kejadiannya.
Saat mendengar lelaki bertopi menyebutkan nama “Pak Mar”,
pengendara itu kembali melihat wajah lelaki tua yang terduduk di becaknya. “Pak
Mar?” Ia tak menyangka perjumpaan dengan guru SMA-nya terjadi pada situasi
seperti ini.
Di tengah kerumunan itu pula, seorang lelaki mendekati
lelaki bertopi dan menanya-nanyai siapa orang yang ada di becak itu sekaligus
kronologi yang terjadi. Ia mengambil ponselnya dan menuliskan tuturan dari
saksi-saksi di sana. Barangkali, akan ada banyak orang yang membaca berita
tentang “Lelaki tua yang meninggal di becaknya” di platform berita daringnya.
Suara sirine ambulance
meramaikan malam di area pasar Kranggan. Petugas ambulance mengeluarkan brankar dan mengusung lelaki tua masuk ke dalam
ambulance. Pengendara motor yang
adalah murid lelaki tua, mengikuti ambulance
dari belakang.
Orang-orang yang berkerumun mulai berpergian. Banyak yang
mengenal lelaki tua dan membicarakannya sambil berjalan. Ada yang menjadi
dokter dadakan dengan segala diagnosanya. Ada yang menjadi ahli agama dadakan
dengan teori-teori mengenai hidup dan mati manusia. Ada yang kembali melanjutkan
aktivitasnya semula. Kemudian ada yang bergegas pergi ke rumah lelaki tua untuk
menyiapkan kebutuhan pemakaman.
Becak tua dibiarkan sendirian. Ditinggalkan dalam remang dan
kesunyian malam.
Catatan:
Yu/Mbakyu =
Panggilan untuk kakak perempuan
Ndak = Tidak
Tak payuni =
Aku buat laku.
Penulis: Nisya Ayu A

0 Comments