Pernah kita bicara pada suatu senja
Bahwa hari ini hanya sekali, lalu selesai
Bahwa kala senja berakhir, begitu pula kita
Kau berkisah tentang resah resah mu hari ini
Dengan harapan resahmu berakhir di akhir hari
Sayang, resah resah berganda atau benar mereda
Kemarin kudengar anak panik dengar meriam, jejeritan dan langkah tergesa,
Berlarian kala hujan, magrib berarti pulang tapi rumah tenggelam dalam nyala- nyala
Belum lapar hari kemarin yang bersisa senja ini semoga tak sampai esok
Atau lelah kemarin nyata hari ini ingin mati, dan bayang- bayang resah datang lagi
Kini kudengar anak panik lihat ujian, nilai, angka angka, dan kawan bergawai baru
Berlarian kala daya melemah, magrib sudah di rumah tenggelam dalam layar kaca
Belum lagi tugas hari kemarin yang bersisa senja ini semoga tak sampai esok
Atau lelahnya begadang nyata hari ini ingin mati, dan bayangan resah datang lagi
Dua anak beda generasi berkisah,
Beda rasa satu resah
Lantas bagaimana nasib akan membawa?
Terlalu jauh untuk dipikir hari ini tapi tiba- tiba sudah di depan mata
Terkejut, tidak siap, tidak terima, pasrah, mati dilindas masa di depan
“Lantas apa yang jauh- jauh harus dipikir hari ini? Atau dekat- dekat ini?” Tanyamu
Sebab cerita kemarin adalah cerita lalu selesai
Lantas hidup hari ini cukup untuk hari ini
Dan nafas esok adalah untuk esok lalu tiba- tiba kau mati
Atau kau bangun dengan senapan mengarah pada kening lalu hening
Mungkin sesekali hari ini untuk hari ini
Mungkin sesekali hari ini untuk esok pagi
Mungkin sesekali hari ini untuk kenang kemarin
Maka bolehkan ku kata,
Tafakur demi masa di depan itu perlu, tapi buat apa kalau kau lupa hidupi hidup
Sukur- sukur kau tak lupa bersyukur
Mana tau suatu hari di depan kamu bersuka akan adanya hari ini
Karena telah menyapa gadis manis di simpang jalan
Karena sekadar duduk manis di samping jalan
Karena miris miris pada sejarah tragis
Karena kejut kejut yang melecut
Karena keretek keretek berasap dialek
Karena olok olok setajam golok
Karena kita kita menjadi cita
Dan karena cinta cinta menjadi nyata
Beda rasa satu resah
Lantas bagian mana yang terpenting?
Esok nanti semoga kita bersyukur hari ini
Nanti berharap kita bersyukur hari ini
Menanti syukur tari rini hari gini dari kini mari sini
Yuliana Rian Apri Mursita
Kelahiran Semarang, 5 April 1997. Saat ini ia tengah memperjuangkan gelar sarjana di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.

0 Comments