Onani Kebebasan Di Dinding Toilet

“Desis air memancar tercurah ke lubang kakus sambil menyebarkan bau amoniak, dan mimik si bocah menyeriangi penuh kepuasan.”
Corat-Coret Di Toilet-Eka Kurniawan

Menilik Kebebasan Manusia
Manusia hadir di tengah kehidupan dengan kebebasan yang melekat pada dirinya. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa arti kebebasan yang melekat pada kehidupan manusia tersebut juga mengalami dialektika yang eksistensial dan esensial. Kebebasan tak mungkin secara mutlak dapat dipenuhi oleh manusia. Kebebasan selalu bersinggungan dengan berbagai segmentasi yang pada akhirnya akan membelenggu kebebasan itu sendiri.
Dengan keterbatasan kebebasan, manusia mencoba mendobrak sekat yang mengondisikan kebebasan dalam ruang yang sempit. Manusia melawan sekat-sekat tirani, baik secara fisik maupun idiologis untuk mempertahankan eksistensi manusia. Hasrat itu begitu kodrati sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa manusia selalu merindukan kebebasannya. Pada bagian inilah, kebebasan ditafsirkan secara subjektif oleh posisi manusia sebagai mahluk individu.
Selain posisi manusia sebagai mahluk individu, kehadiran manusia juga berada dalam posisi komunal yang harus memahami kehadiaran manusia lain. Seseorang hadir dalam dunia tidak hanya melihat dunia sebagai miliknya saja tetapi perlu meninjau bahwa ia ada di dunia yang juga mengahdirkan orang lain. Dengan kehadiran manusia lain, tafsiran manusia terhadap masyarakat akan diatur kembali berdasarkan pemahaman komunal. Maka dari itu, kebebasan yang awalnya secara subjektif perlu ditarik lagi menujut kebebasan objektif, yang keberadaannya mampu dimengerti oleh kehadiran manusia lain.
Di tengah tarik ulur antara kebebasan subjektif dengan kebebasan objektif, nilai-nilai universal dan esensial juga menjadi alasan serta acuan bagi pendefinisian kebebasan. Kebebasan tidak dapat disorakkan begitu saja tanpa ada landasan yang jelas dan kuat untuk menyuarakan. Nilai-nilai tersebut membangun makna kebebasan yang hakiki. Pada akhirnya, ketika nilai-nilai tersebut dilanggar maka menjadi hak dan kewajiban manusia untuk memberontak dan membelai nilai-nilai tersebut.
Cerita pendek karya Eka Kurniawan yang berjudul “Corat-Coret Di Toilet” menggambarkan disorientasi manusia akan ruang kebebasannya. Dalam cerpen tersebut, orang-orang saling berdialog tentang kebebasan subjektif masing-masing sehingga membentuk sebuah narasi yang saling berkesinambungan. Mereka berdialog disaksikan tembok toilet sebagai saksi bisunya karena mereka sudah meragukan di mana lagi mereka akan menuangkan kebebasan subjektifnya.
Di antara tembok yang membentuk ruang sempit, manusia mencoba membangun eksistensi kebebasannya. Kebebasan tanpa intervensi. Kebebasan yang dapat didialogkan. Kebebasan yang menemukan ruang kompromi. Justru bukan kebebasan yang hidup di masyarakat Indonesia temporer ini, kebebasan yang utopis, terbentur etika dan moral yang tidak mendapat ruang dialektika serta kebebasan yang hanya dianggap sebagai aksi reaksioner.

Curahan Hati Dinding Toilet
Pertanyaan yang muncul terhadap cerpen Eka Kurniawan adalah mengapa harus toilet? Bukankah toilet itu tempat untuk buang hajat? Kok malah toilet menjadi tempat curahan hati setiap manusia dalam cerpen menyampaikan kebebasan subjektifnya?
Di tengah hiruk-pikuk reformasi, vandalisme juga muncul sebagai salah satu budaya yang tumbuh. Corat-coretan terdapat di berbagai ruang publik. Coretan tersebut dapat berisi kepentingan ideologis, identitas suatu kelompok tertentu, atau hanya sekedar coretan yang tak bermakna apapun. Coretan tersebut dapat mudah ditemui di tempat-tempat publik, salah satunya adalah toilet.
Toilet menjadi salah satu sasaran corat-coret atau mungkin juga dapat disebut juga menjadi sasaran vandalisme. Coretan-coretan yang ada mulai dari coretan yang dibuat dengan pulpen, spidol, bahkan juga dengan cat semprot. Isi dan bentuk coretannya pun beragam. Ada yang hanya berisi pernyataan, mulai dari cinta hingga politik. Ada yang berisi tentang gurauan mesum hingga makian yang tak tahu diarahkan kepada siapa.
Vandalisme yang muncul ini, mungkin oleh beberapa orang dilihat sebagai aksi perusakan tanpa alasan yang jelas dan merugikan pihak publik. Namun, aksi tersebut pun dapat dilihat dengan perspektif lain. Vandalisme atau corat-coret di toilet itu dapat dilihat sebagai aksi ekspresif orang-orang yang melakukan. Mereka ingin menuangkan pikiran liar yang ada dalam dirinya, yang mungkin selama ini terkungkung begitu saja tanpa dapat disalurkan. Mereka ingin mengaktualisasikan kebebasan subjektif yang ada pada dirinya untuk meneguhkan eksistensinya sebagai manusia yang berpikir dan berperilaku. Lalu, mengapa dalam cerpen Eka Kurniawan, toilet dipilih sebagai ruang dialektika kebebasan tersebut?
Cerpen ini ditulis pada tahun 1999. Situasi politik pada masa itu masih sedikit chaos karena perpindahan atmosfir dari Orba ke Reformasi. Masyarakat Indonesia masih belum bisa mapan dengan perubahan setiap unsur masyarakat pasca Reformasi.
Inflasi masih pada angka tertinggi. Nilai rupiah melemah di pasar internasional. Harga-harga kebutuhan pokok terlalu tinggi untuk dijangkau oleh rakyat. Sistem pemerintahan sedang melakukan pembenahan menuju pemerintahan yang lebih demokratis. Di sana-sini, masyarakat masih sibuk dengan proses adaptasi.
Di tengah huru-hara situasi, masyarakat Indonesia pun juga masih mengahdapi adaptasi mental. Sebuah fase menuju era keterbukaan dan demokrasi. Adaptasi mental ini berangkat dari era di mana otoritas digunakan secara tiran menjadi era yang terbuka, bebas dan demokratif.
Pada perubahan tersebut, masyarakat tentu tidak secara serta-merta melakukan perubahan yang revolusioner. Bayang-bayang ketakutan masih hinggap di setiap unsur masyarakat. Budaya yang telah ditanamkan Orba sudah mengakar pada karakter masyarakat Indonesia. Tetapi, seperti kuda menemukan sabana, masyarakat Indonesia seperti menemukan oase yang bisa menghapuskan dahaganya terhadap kebebasan dan keterbukaan.
Fase perpindahan dan bayang-bayang ketakutan inilah yang kemudian disimbolkan sebagai toilet. Ruang yang sempit, aman serta nyaman bagi penggunanya dan memberikan kebebasan serta ruang privasi. Tembok yang menjadi saksi bisu kebebasan subjektif masyarakat pasca-reformasi.
Dinding toilet menjadi ruang dialog bagi dialog antara pikiran-pikiran yang muncul pada para pengunjung toilet. Setiap kepala yang menuangkan kebebasannya memberikan kontribusi aspirasi sesuai dengan karakter dan ideologi yang disandang oleh setiap individu. Dari dialog tersebut, akhirnya muncul ruang kebebasan tanpa ada sekat walaupun tetap memunculkan dua kubu yang saling berseturu, antara kelompok revolusioner dan konservatif.

Onani: Hasrat Menuju Kebebasan Eksistensial
Kebebasan memang sangat sulit untuk dipahami karena banyak aspek yang dilibatkan sehingga membuat kebebasan sukar untuk dipahami. Sifat manusia menghendaki untuk bebas itu merupakan sisi hakiki yang tak dapat dipungkiri sebagai sifat yang manusiawi. Sifat itu muncul sebagai hasrat, sama halnya dorongan manusia untuk makan, tidur, berkomunikasi, bahkan bercinta. Sebagai sebuah hasrat, kebebasan tidak dapat dengan mudah direpresi begitu saja tanpa ada alasan yang mampu membuat kebebasan itu untuk didialogkan.
Hasrat mewujudkan kebebasn dapat diumpamakan seperti onani atau mansturbasi. Onani muncul sebagai hasrat paling alamiah dari manusia untuk menyalurkan libidonya, bahkan manusia mampu menembus etika, moral serta dogma agama untuk melakukannya. Kebebasan diusahakan oleh individu sebagai hasratnya untuk mencapai puncak kenikamatan dari hidupnya untuk meraih sebuah tujuan.
Dalam cerpennnya, Eka Kurniawan menggambarkan berbagai hasrat kebebasan para pengunjung toilet dengan tulisan-tulisan yang ditinggalkan mereka pada dinding toilet. Secara sepintas, tulisan-tulisan yang muncul pada dinding toilet itu dapat dilihat sebagai aksi reaksioner yang kemudian membuka ruang diskusi yang seru. Namun, secara mendalam, tulisan-tulisan tersebut mencerminkan kebebasan ide dari setiap pikiran para pengunjungnya. Walaupun tanpa dijelaskan secara detail karakter para penulis tulisan di toilet, Eka Kurniawan mampu menghadirkan representasi dialog kebebasan subjektif pada sebuah ruang sempit yang disebut toilet.
Dialektika yang dihadirkan dalam ruang kecil bernama toilet itu diawali dengan sebuah pernyataan pedas terhadap situasi saat itu. “Reformasi gagal total, Kawan! Mari tuntaskan revolusi demokratis!” Dengan sebuah pernyataan provokatif itu, perdebatan antara kebebasan subjektif dimulai. Penulis tulisan tersebut sebagai pematik percakapn merasa bahwa reformasi yang sudah diusung dan menumbangkan Orba telah gagal. Hantu Orba masih gentanyangan menakuti setiap lini masyarakat sehingga ia menyorakkan revolusi untuk memperjuangkan nilai-nilai demokratis.
Setelah munculnya tulisan pertama tersebut, ruang diskusi toilet pun dibuka. Aspirasi mulai berdatangan dari para pengunjung toilet. Tulisan-tulisan muncul, menghiasi dinding toilet. Setiap tulisan mewakili berbagai kebebasan subjektif penulisnya, entah dari kubu revolusioner maupun konservatif.
Perilaku-perilaku yang muncul dari para penulis tulisan di toilet dapat dilihat sebagai realisasi dirinya untuk mewujudkan kebebasan eksistensial. Menurut K. Bertens, kebebasan eksistensial adalah wujud kebebasan yang paling tinggi. Kebebasan eksistensial merujuk pada taraf seorang manusia merasa benar-benar memiliki dirinya sendiri. Kebebasan ini merepresentasikan manusia yang mampu mencapai tingkatan otonomi, kedewasaan, otentisitas dan kematangan rohani. Kebebasan eksistensial ini pula yang diwakilkan dalam berbagai tulisan yang memuat ideologi tertentu dari setiap penulisnya.
Kebebasan eksistensial para penulis toilet menjadi kerinduan dan hasrat yang ingin direalisasikan dalam kenyataan, walaupun mungkin itu hanya harapan semu yang tak mampu dimanifestasikan dalam kehidupan. K. Bertens pun menjelaskan bahwa kebebasan eksistensial jarang sekali dapat diwujudkan dengan sempurna. Namun, kebebasan eksistensial menjadi sebuah harapan ideal atau cita-cita yang dapat memberikan arah dan makna kepada kehidupan. Maka dari itu, kebebasan eksistensial menjadi hasrat yang membuat hidup manusia lebih berarti dengan setiap dialektika untuk merumuskannya.
Dari pemahaman mengenai kebebasan eksistensial menurut K. Bertens tersebut, perdebatan yang muncul di dinding toilet tak dapat disalahkan begitu saja, entah dari perspektif kubu revolusioner maupun konservatif. Semua pihak hadir dengan cita-cita yang diusung masing-masing untuk mewujudkan kondisi ideal yang diinginakan. Kebebasan subjektif tersebut muncul untuk membuka dialektika pemikiran dan saling berdiskresi memurnikan orientasinya. Ketika ingin menilai dan memilih kebebasan subjektif yang ada dalam tulisan tersebut, kita perlu juga memahami latar belakang pemikiran bebas dari setiap penulis toilet itu. Mengapa mereka menulis semacam itu? Apa yang mereka impikan sebagai situasi ideal? Bagaimana mereka mencoba mengusung kebebasan subjektif mereka dan mewujudkan aksi persuasif mereka untuk mewujudkan kebebasan objektif yang diamini bersama? Maka dari itu, kebeasan setiap individu perlu diperhatikan latar belakang yang membangunnya sehingga secara koletktif mampu membangun definisi kebebasan objektif yang diamini bersama.

Menggugat Kebebasan Manusia Indonesia
Jika berbicara tentang Indonesia, rasanya begitu jauh untuk mengharapkan kebebasan yang mendapat ruang dialog. Indonesia telah lama ditimang-timang dalam balutan militerisme yang tiran dan totaliter. Implikasi dari kondisi tersebut adalah terbentuknya mental manusia yang terkungkung dalam ketakutan. Setiap individu merasa takut untuk mengekspresikan kebebasan eksistensialnya atau bahkan ekstrimnya, mereka tak lagi peduli untuk memperjuangkan kebebasan eksistensialnya. Keprihatinan tersebut muncul karena adanya pengondisian yang begitu massif dalam aspek kehidupan masyarakat Indonesia.
Batas-batas etika dan moral yang dilanggengkan pada masyarakat ditentukan oleh kaum mayoritas yang cenderung mengutamakan kepentingan pribadi bukan menciptakan suasan yang mencerminkan kepentingan kolektif. Pengaruh kelompok mayoritas inilah yang kemudian menjadi akar yang tumbuh langgeng tanpa ada ruang untuk mengintervensi demi menciptakan ruang diskusi. Supremasi kekuasaan pun digunakan sebagai legitimasi absolut terhadap segala macam serangan, bahkan tak jarang menggunakan cara-cara kekerasan untuk melanggengkannya.
Pembatasan kebebasan tersebut memunculkan pengondisian masyarakat untuk tetap bungkam, bodoh dan tak peduli terhadap situasi. Pada beberapa orang yang kritis, pembatasan kebebasan justu menjadi kail untuk melakukan konfrontasi terhadap tirani. Namun, kondisi semacam itu akan memunculkan diskursus makna kebebasan serta krisis kepercayaan pada pihak otoritas tertinggi.
“Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet”
Kutipan salah satu tulisan di dinding toilet tersebut menunjukkan bahwa kebebasan subjektif yang muncul dari penulis dinding sudah tidak dapat lagi mempercayai institusi negara sebagai sarana akomodasi. Diskursus ini terjadi karena negara, sebagai pemegang otoritas tertinggi, tidak mampu memediasi setiap individu untuk mengekspresikan kebebasannya. Pernyataan tersebut didukung dengan tulisan pada dinding toilet yang berkata “Aku juga,” oleh sekian banyak pengunjung toilet berikutnya.
Kebebasan eksistensial penulis dinding toilet yang terakhir itu terbukti mampu menjadi katalisator bagi pengunjung lainnya untuk membentuk kebebasan dan kebenaran objektif terhadap satu perspektif. Wakil rakyat tidak mampu menjadi wadah aspirasi rakyat. Otonomi ideologi dari setiap penulis mulai disatukan dengan satu rasa kepemilikan bersama bahwa di tengah sorak-sorai pasca-reformasi, negara masih belum bisa menjadi naungan bagi rakyatnya.
Jika, konteks pembahasan filosofi dalam cerpen tersebut ditarik ke saat ini, kita akan menemukan bahwa sebenarnya proses perwujudan kebebasan eksistensial di negara ini masih belum dapat terciptakan. Batasan etika, moral, budaya dan situasi politik menjadi benturan keras bagi perwujudan kebebasan tersebut. Dialektika untuk memurnikan kebebasan tak mampu diakomodasi secara optimal, pun oleh lembaga akademis yang seharusnya memberikan secercah harapan bagi pembangunan bangsa.
Intervensi yang bersifat politis masih saja diterapkan untuk merepresi pihak-pihak yang mencoba mengkritisi zaman. Bahkan, lembaga akademik pun turut dibungkam oleh situasi yang sengaja diciptakan kaum-kaum ekstrimis yang menolak ruang dialog. Selain itu, para pelajarnya pun secara tidak langsung dikondisikan untuk tidak menjadi bebas, baik secara perilaku, nilai, prinsip, ideologi dan pemikirannya. Semua diberangus atas dasar mewujudkan supremasi kekuasan dengan dalih kestabilan ketertiban masyarakat.
Di antara dilema situasi tersebut, kita sebagai seorang manusia yang diberikan budi pekerti serta hati nurani seharusnya turut menggugat sikap alienansi tersebut terhadap kebebasan eksistensial setiap individu. Perlawanan terhadap intervensi kemanusiaan yang paling hakiki harus didesiskan secara terus-menerus, terlebih oleh para kaum akademisi yang seharusnya memiliki pemikiran kritis dan peka terhadap perkembangan zaman. Itu semua dilakukan serta-merta demi proses pemartaban nilai kemanusian. Jika, kebebasan eksistensial tak lagi dihargai ataupun dipertimbangkan, lalu bagaimana kita akan menjadi manusia Indonesia yang bermartabat dan dapat membangun bangsa ini?


Daftar Pustaka

Bertens, K. 2013. Etika. Yogyakarta: Kanisius.
Kontras. 2003. Politik Militer Dalam Transisi Demokrasi Indonesia. Jakarta: Kontras.
Kurniawan, Eka. 2014. Corat-Coret Di Toilet. Jakarta: Gramedia.
Leahy, Louis. 2002. Horizon Manusia: Dari Pengetahuan Ke Kebijaksanaan. Yogyakarta: Kanisius.
Polanyi, Michael. 2001. Kajian Tentang Manusia. Yogyakarta: Kanisius.
Soetomo, Greg. 2003. Krisis Seni Krisis Kesadaran. Yogyakarta: Kanisius.
Wora, Emanuel. 2006. Perenialisme: Kritik Atas Modernisme Dan Postmodernisme. Yogyakarta: Kanisius.


JB Judha Jiwangga
Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) angkatan 2013 

Post a Comment

0 Comments