“Tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan
mengenal bangsanya sendiri”
(Pramoedya Ananta Toer)
Kedudukan bahasa
Indonesia di kalangan masyarakat merupakan sesuatu yang berharga dan sangat
dihormati. Pada dasarnya fungsi bahasa sendiri diimplementasikan sebagai alat
pemersatu bangsa. Setiap masyarakat mempunyai ikrar untuk menjunjung tinggi
nilai tatanan yang terdapat pada “bahasa Indonesia”, demi nilai kesatuan dan
persatuan bangsa. Secara hakiki bahasa adalah sebuah sarana untuk melakukan
komunikasi dalam kehidupan antar mahluk sosial, lewat kegiatan interaksi
tersebut kita dapat lebih mengenal dan memahami pelbagai latar belakang yang
tumbuh di masyarakat sekitar.
Seiring
berkembangnya zaman, bahasa Indonesia terus menghasilkan kata-kata baru,
seperti penciptaan dan penyerapan bahasa. Namun ironinya, belakangan ini kita
sering melihat dan mendengar banyak masyarakat yang menyimpang dalam penggunaan
tata bahasa. Tak lain halnya dengan merancukan bahasa Indonesia dengan bahasa
lain, keadaan tersebut tentu saja akan mendorong hilangnya identitas kita
sebagai pengguna bahasa Indonesia. Lantas, bagaimana cara kita untuk menyikapinya?
Apakah ini semua pengaruh dari perubahan zaman yang semakin berkembang?
Menilik Keluputan Bahasa Publik
Pada era
globalisasi ini, sering kali kita menemukan pengungkapan bahasa Indonesia yang
tidak sesuai dengan bahasa aslinya. Fenomena tersebut bahkan sudah mendarah
daging dengan segelintir masyarakat sekitar. Sungguh amat disayangkan, apabila
bahasa yang dulu pernah apik, kini sudah jauh menyimpang dari bahasa murninya.
Meniti pembahasan tersebut, terdapat tinjauan kata yang sering terpakai keliru
oleh kalangan masyarakat, sebagai contoh: ngapain,
dikasih, gitu, gini, enggak, ngurusin, baiarin, terlanjur, deh, dan
lain-lain. Selain itu, terdapat pula tinjauan kata dengan mencampuradukkan
bahasa pribumi dengan bahasa asing, di antaranya: sorry, and, or, thank you, otw, so, urgent, okey, dan sebagainya.
Setelah melihat kelengahan-kelengahan
tersebut, kita seharusnya menyadari betapa krusialnya masyarakat dalam penggunaan
bahasa. Banyak faktor yang mempengaruhi dampak dari masalah ini, yakni: adanya
pengaruh terhadap lingkungan luar dan ketidaksengajaan masyarakat dalam
menggunakan bahasa yang tidak baku. Maka dari itu, ini merupakan darma kita
bersama untuk memberikan transformasi kepada publik tentang penggunaan bahasa
yang benar. Di sisi lain, kita semua juga harus melestarikan dan memelihara
bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional Republik Indonesia, guna mewarisi para
penerus atau generasi bangsa selanjutnya.
Ikhtisar Eksistensi Bahasa Indonesia di Masyarakat
Realita yang
terjadi hingga kini, kalangan masyarakat masih saja menggunakan bahasa yang
keliru dari bentuk dasarnya. Sebuah potret bahwa, keadaan tersebut sudah
berbanding terbalik dengan hakikat pengunaan bahasa Indonesia pada umumnya.
Kita tidak ingin Negara Indonesia terus-menerus dipandang sebelah mata oleh
negara lain, karena hilangnya identitas bangsa dalam pemakaian bahasa
Indonesia. Oleh karena itu, sebagai manusia yang dikaruniai akal dan budi, tiba
saatnya kita mendorong seluruh insan di dalam masyarakat untuk menciptakan rasa
nasionalisme sebagai bentuk apresiatif akan sejarah bangsa Indonesia.
Terkhusus, bagi fungsi bahasa Indonesia yang digunakan untuk sarana penguatan
jati diri dan indentitas bangsa
Tentu saja, semua
problematika itu tergantung dengan diri kita masing-masing yang menjalaninya.
Jika kita menaggapi perihal tersebut pasti akan ada hasil terbaik dari
semuanya, namun jika kita memandang hanya sebatas untaian belaka, rasa
ketidakpuasan dan kekecewaan akan menjadi hasil akhir dari masalah tersebut.
Jadi, apakah ini pertanda bahwa identitas Bangsa Indonesia telah berakhir? Ataupun
sebaliknya?
Daftar Pustaka:
Suyanto, Edi. Membina,
Memelihara, dan Menggunakan “BAHASA INDONESIA” secara benar-Kajian Historis,
Teoritis, dan Praktik Tulis. Penerbit Graha Ilmu.
Slamet, Prof Dr ST Y. 2014. Probelmatika Berbahasa Indonesia dan
Pembelajaranya. Penerbit Graha Pustaka.
Moeliono,
Anton. 1985. Pengembangan dan Pembinaan
Bahasa: Ancangan Alternatif di dalam Perencanaan Bahasa. Jakarta: Djambatan.
Ludgeryus Angger Prapaska / 3 Oktober 2016

0 Comments