Surat Terbuka Untuk Bapak Yoseph Yapi Taum


Dear Bapak Yoseph Yapi Taum yang ketjeh

Perkenalkan, nama saya Bayu pamungkas, 20 tahun. Saya seorang Jawa tulen. Ibu dan ayah saya juga seorang Jawa. Saya hidup dan besar di tengah-tengah   masyarakat Jawa yang dikenal sebagai suku yang gemar merantau, belakangan saya ketahui sifat ini juga menurun pada orang Padang dan Bugis. Begini pak, saya itu sebetulnya sudah sejak lama kagum dengan bapak. Bukan, bukan ... bukan karena gagasan-gagasan kiri yang sering bapak dengungkan tiap kali mengajar di kelas. Melainkan, lebih kepada persoalan humanis yang kata bapak timbul akibat dari semangat nasionalis orang-orang kita yang terlalu berlebihan. Sungguh pak, topik ini sungguh menarik perhatian saya.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membaca sebuah artikel yang ditulis oleh salah satu kontributor portal media online. Disebutkan diartikel itu bahwa orang papua sedang berada diambang kepunahan. Tentu bapak sangat sedih mendengar kabar ini. Saya pun juga begitu. Dan ini yang menarik: Si penulis juga menyertakan data statistik guna memperkuat tulisannya. Disebutkan disitu bahwa pada tahun 1960-an orang asli papua berjumlah 800.000 jiwa. Sampai tahun 2015 ini, jumlahnya tidak lebih dari 2,5 juta jiwa. Ironinya, jumlah pertumbuhan penduduk yang lamban ini salah satu penyebabnya dikarenakan banyaknya masyarakat papua asli yang mati ditangan aparat keamanan kita. Mereka mati karena berusaha memperjuangkan kedaulatan Papua.

Kalau kita tengok lagi ke belakang, pak. Kondisi semacam ini sebetulnya bukan pertama kali terjadi. Situasi yang sama juga pernah terjadi di Indonesia bagian barat. Gerakan Aceh Merdeka atau biasa disebut GAM yang kala itu oleh pemerintah Indonesia dituding sebagai gerakan separatis karena dianggap membahayakan NKRI. Tapi, sadarkah bapak dari masalah yang terjadi di Aceh dan Papua sebetulnya ada satu kemiripan yang memicu terjadinya konflik. Ya betul pak, ialah apa yang disebut Kesejahteraan atau dalam bahasa inggris disebut Prosperity. Simpelnya, kalau orang hidupnya enak, segala kebutuhan hidup terpenuhi, orang tidak akan pernah berkoar, pak. Artinya segala kekacauan yang terjadi sampai saat ini kurang lebih karena adanya kebijakan yang tidak bijak memihak kepada rakyat banyak, sehingga wajar jika masyarakat bereaksi seperti itu.

Tapi, sayang seribu sayang, pak. Dukungan bapak terhadap upaya pemisahan Papua dari Indonesia betul-betul saya sesalkan. Paling tidak untuk saat ini. Tapi, siapa yang tahu jika suatu hari nanti saya malah ikut berbalik mendukung bapak. Karena begini pak, saya masih merasa skeptis dengan jargon Papua Merdeka yang disuarakan oleh OPM itu. Saya ragu kalau jargon itu belum sepenuhnya mewakili suara rakyat Papua. Saya pun mencurigai jika isu Papua merdeka ini sebetulnya hanya dimanfaatkan untuk kepentingan segelintir orang. Namun, saya juga tidak menutup mata ketika tentara dan Polisi setempat memperlakukan orang-orang Papua disana dengan kasar dan semena-mena. Atas nama kemanusiaan, saya pribadi pun sangat mengecam tindakan semacam itu.

Sebagai masyarakat pancasilais yang baik tentunya saya akan menempatkan kepentingan dan keselamatan bangsa diatas segalanya, pak. Tapi, saya juga tidak mengatakan apa yang bapak perjuangkan saat ini salah. Saya justru menyalahkan orang-orang yang saat ini sedang bersembunyi dibalik “selimut kekuasaan”, mereka yang berniat merusak tatanan negara ini dan hanya menjadikan negara ini sebagai alat untuk menindas. Bukankah pancasila yang baik seharusnya bisa menjadi pedoman hidup bagi setiap warga negaranya, iya kan pak. Tapi, apa jadinya jika nilai-nilai yang terkandung didalamnya justru saling bertentangan. Seperti pertentangan yang terjadi pada konsep humanis dan nasionalis yang sempat saya singgung pada paragraf pertama.

Saya awalnya juga sempat bingung memposisikan diri saya sebagai penganut ideologi pancasila model mana. Bila dilihat dari konsep humanismenya, apa yang dilakukan tentara-tentara Indonesia guna memerangi Organisasi Papua Merdeka jelas menyalahi konsep humanis yang tertuang pada sila ke2. Segala tindak kekerasan yang dipertontonkan tentara kita jelas sekali tidak mencerminkan nilai-nilai Pancasila yang terkandung di dalamnya, dimana kita sebagai masyarakat pancasilais yang baik dituntut untuk mampu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban. Sudah jelaslah bahwa humanisme menjadi landasan dalam sila ke2 tersebut. Lalu dimana saya harus menempatkan posisi ketika kedaulatan bangsa ini justru diinjak-injak sehingga menyulut terjadinya peperangan. Apakah sebagai warga negara yang baik kita akan diam saja, tentu tidak. Dalam sila ke3 berbunyi “Persatuan Indonesia” jelas doktrin nasionalisme sangat terlihat. Lagi-lagi, sebagai warga negara yang baik rasa cinta tanah air, rasa bangga bahkan rela berkorban demi tanah air harus ada disetiap insan manusianya.

Karena baik saya dan bapak sebetulnya sedang  berada diposisi yang serba salah. Kok bisa begitu? Itulah hebatnya orang-orang kita pak, di Indonesia membela hak-hak orang Papua dituduh pro separatis. Sebaliknya, orang nasionalis yang membela negaranya dituduh tidak humanis. Kalau saya disuruh memilih, saya akan memilih keduanya. Tapi, realitanya tidak bisa seperti itu karena  dalam sebuah pilihan tentu harus ada yang dikorbankan untuk tidak dipilih, berat memang, tapi itulah yang terbaik.  




Bayu Pamungkas / Yogyakarta, 25 Maret 2016
Penulis adalah mahasiswa sastra indonesia Universitas Sanata Dharma.

Post a Comment

0 Comments