Sebuah
pemikiran seseorang yang didasarkan pada landasan hukum, terkadang membuat
masyarakat takut akan segala aktivitasnya.
Waktu terus berputar, keadaan zaman pun
semakin berkembang, dengan adanya perputaran duniawi segala aspek mulai dari
tindakan, perilaku, hingga ajaran moral nyatanya mendapat kekeliruan
tersendiri. Jika dilihat dari segi pemerintahan, banyak dari kalangan atas yang
menyalahgunakan kekuasaan/jabatan sebagai alat untuk meningkatkan citra
kualitasnya sebagai pemimpin. Apakah ini contoh para pemimpin kita dimasa
depan? Indonesia adalah negara multikulturalisme di mana banyak suku, bahasa,
adat istiadat, dan kepercayaan tercipta di negara ini. Dengan berpegang teguh
terhadap dasar negara yaitu pancasila kita didorong untuk menciptakan suasana
yang nyaman dan tentram demi terbentuknya kesatuan antar satu sama lain. Namun
dalam realitanya nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila masih bertolak belakang dengan moral
manusia serta munculnya perbedaan pemikiran yang menyebabkan perbedebatan antar
masyarakat dan pemerintah. Tanpa disadari kita sebagai masyarakat justru sering
menjadi bahan manipulasi pemerintah terhadap segala bentuk macam peraturan,
terutama pada jaman masa orde baru dibawah kekuasaan Soeharto.
Menggugat
Perkara Publik
Proses perjuangan Bangsa
Indonesia belum berakhir, pencapaian untuk mendapat kemerdekaan yang
sesungguhnya hanyalah sebatas perkara saja. Semua masyarakat bergemuruh
meneriakan turunnya kekuasaan karena permasalahan pergerakan politik yang
menganut rezim militeristik orde baru, dan menyebabkan keterpurukan Bangsa
Indonesia dengan menghamba pada investasi modal asing. Banyak kalangan kaum
minoritas yang menjadi sumber dari bentuk ketidakadilan para penguasa, karena
munculnya arahan pemerintah yang saling bertolak belakang terhadap publik.
Di Indonesia bentuk ketidakadilan yang paling nyata dan mempengaruhi jutaan
umat manusia adalah rendahnya taraf hidup yang tergolong dalam kondisi sub-human.
Situasi ini tidak lain adalah kemisikinan struktural, yang menyebabkan
terjadinya pembunuhan massal sama efektifnya dengan perang, bahkan lebih dari
itu efek kemiskinan sendiri menyebabkan kerusakan fisik, psikologi, dan moral
(akut dan berkepanjangan) pada sisi kemanusiaan.
Sebuah artikel karya Wiji
Thukul yang berjudul “Pikiran Punya
Hukum Sendiri” menggambarkan bentuk pelarangan pada hasil karya buku milik
Pramoedya Ananta Toer. Dalam artikel tersebut, dijelaskan bahwa kita masyarakat
terbiasa hidup dalam kontrol. Tapi benarkah pikiran betul-betul bisa dikontrol?
Untuk sementara mungkin saja, tapi jika selamanya? Kita memang sering melihat
atau mendengar orang yang diseret masuk kedalam pengadilan karena
pikiran-pikiran yang dikemukakannya bertentangan dengan pikiran resmi penguasa.
Menuntut pada akhirnya pun akan diintimidasi bahkan dipenjarakan jika memang
terbukti bersalah. Orang-orang yang berani menentang memang bisa dipenjarakan, tetapi sifat keberanian
tak bisa dipenjarakan. Pada sisi lain inilah yang disebut pemberontakan
terhadap keselarasan peraturan pemerintah. Pemberontakan nyaris selalu menjadi
keniscayaan yang tercipta atas dasar ledakan harapan memenangkan masa depan
dunia yang lebih adil dan manusiawi, terlepas dari sikap kekerasan yang
sewenang-wenang terhadap masyarakat. Pemberontakan paling potensial dilakukan
oleh para kaum tertindas itu sendiri karena mereka yang paling merasakan
sakitnya pada zaman
tersebut, namun jika rakyat sudah jatuh
dalam fatalisme karena putus harapan setelah mencoba berjuang, maka para
kaum muda lah yang akan bangkit untuk
melawan dan membuat garis pemberontakan.
Para penerus bangsa yaitu kaum muda adalah tonggak kekuatan dari idealisme yang
haus akan keadilan dan otentisitas, karena mereka cenderung mengadopsi paham
ideologi radikal. Ketika konflik meluap atau meluas hingga jalan-jalan, para
penguasa akan menganggap ini adalah tugas untuk menertibkan ketertiban umum,
dengan seperti ini justru akan menciptakan kekerasan antara petugas kemananan Negara dengan
masyarakat. Dalam perilaku kekerasan pemerintah selalu memakan korban yang
tidak sedikit dan sangat memilukan. Keadaan atau situasi semacam ini yang
pernah terjadi di Negara Indonesia, rasa penat dan tertindas yang bercampur
aduk dengan kebebasan untuk mendapat keadilan dan kesejahteraan. ENGKAU
HARUS HANCUR ! DALAM
KEYAKINAN KAMI DI
MANA PUN – TIRANI HARUS TUMBANG ! merupakan penggalan larik salah satu puisi
karangan Wiji Thukul, yang telah menjelma sebagai pedoman bagi masyarakat untuk selalu berjuang melawan rezim pada masa
Orde Baru. Menolak keras segala macam aspek peraturan yang bertentangan dengan
aspirasi publik. Bentuk dari ketidakadilan yang dilakukan para penguasa kepada
masyarakat terutama para kaum minoritas. Sebuah fase dimana bentuk ketidakadilan
sendiri dilakukan untuk kepentingan pemerintah bukan untuk kesejahteraan
masyarakat.
Dari pemahaman mengenai kekuasaan menurut John Locke, kekuasaan negara pada hakikatnya merupakan amanah,
yakni kepercayaan warga kepada penguasa yang telah disepakati menjalankan
pemerintahan dan kekuasaan. Politik bersifat sekuler, karena kekuasaan itu
berasal dari rakyat maka dari itu
kekuasaan tidak lah bebas dari pengawasan rakyat. Otoritas yang dimiliki rakyat
memberi kepercayaan kepada penguasa untuk mengatur dirinya dan apabila terjadi
penguasaan yang berlebihan oleh negara atau penguasa akan mengakibatkan
hilangnya kepercayaan atau hilangnya hak-hak rakyat itu sendiri, dan terjadilah
yang dinamakan perlawanan/pemberontakan rakyat atas kesewenangan penguasa dalam
menjalankan pemerintahannya.
Tokoh
Perjuangan
Permasalahan sengketa
antara pemerintah dan masyarakat yang menimbulkan pelbagai persoalan hingga
terjadi perpecahan atau konflik, tentu saja tidak lepas pada seorang tokoh.
Tokoh tersebut dapat dikatakan sebagai legenda dalam sejarah politik pergerakan
di Indonesia dan tokoh pejuang masyarakat yang selalu bersih keras untuk
membuat dobrakan gerakan perubahan terhadap reformasi. Wiji Thukul, yang
bernama asli Widji Widodo (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada tanggal 26
Agustus 1963) adalah sastrawan dan aktivis pro-demokrasi berkebangsaan
Indonesia. Wiji Thukul merupakan salah satu
tokoh yang giat melawan penindasan rezim Orde Baru. Pasca peristiwa
tanggal 27 Juli 1996, sekitar bulan menjelang
kejatuhan Soeharto pada tahun 1998 sampai sekarang dia tidak diketahui
rimbanya dan dinyatakan hilang dengan
dugaan diculik oleh militer pada masa Orde Baru. Selain itu Wiji Thukul sejak
akhir tahun 1996 telah menjadi buronan para penguasa karena kelakuan aktifis
seni kerakyatannya dianggap provokatif, subversif, dan mengancam stabilitas
negara, serta lewat karya ciptaannya yang terkesan nyeleneh karena tidak membicarakan keindahan justru cenederung
dengan nada-nada protes akan kenyataan hidup kaum minoritas yang begitu sulit
dijalani. Salah satu puisi hasil karyanya adalah “Bunga dan Tembok”. Dalam
puisi tersebut mengibaratkan bahwa rakyat kecil sebagai bunga, yang hidup di
dunia ini bagaikan sesuatu yang tidak
berharga dan tidak diharapkan oleh para pemilik Bangsa, para penguasa lebih
senang untuk mengatur pemerintahan tanpa adanya ikut campur masyarakat dengan
membangun jalan raya atau fasilitas lain dan sebuah pagar besi. Penggambaran
dalam tembok tersebut merupakan sebuah kisah pilu bagaimana sang penguasa sering menggusur dan melukai para masyarakat hingga
keadilan benar-benar hilang dalam benak pikiran sang penguasa. Karya pusi ini
pada kenyataannya terbukti benar hingga sekarang. Semangat Wiji Thukul dalam
membuat gerakan perubahan dalam reformasi terus menyala hingga akhir periode
Orde Baru berakhir.
Jika
kami Bunga
Engkau
adalah Tembok
Tapi
di tubuh Tembok itu
Telah
kami sebar biji-biji
Suatu
saat kami akan tumbuh bersama
Dengan
keyakinan : ENGKAU HARUS HANCUR !
DALAM
KEYAKINAN KAMI
DI
MANA PUN – TIRANI HARUS TUMBANG !
(puisi “Bunga dan Tembok” Karya
Wiji Thukul)
Otoritas dalam Bunga dan Tembok
Negera Indonesia sampai
saat ini masih terbelenggu dalam segalam macam persoalan dan konflik yang belum
terselesaikan secara sempurna. Permainan politik gaya baru terus meraup dalam
kinerja pemerintahan. Para penguasa Bangsa kita terlalu sibuk bahkan melupakan
rakyat untuk menyejahterakannya, mereka selalu memperkaya diri dan menggadaikan
negeri ini dengan investor penanaman modal asing yang terus berdatangan. Masih
banyak penerus bangsa yang sulit untuk mengakses jalur pendidikan, padahal
pendidikan adalah jalur akses utama untuk mendapat berbagai ilmu pengatahuan.
Dari segi kesehatan pun seharusnya pemerintah memberikan pelayanan secara
merata dan berkualitas, pada sektor lapangan kerja pun sedemikian rupa yang
menjadi persoalan melihat banyaknya pertumbuhan di Indonesia semakin tinggi.
Akhir kata mengetahui sosok Wiji Thukul, apa yang menjadi cita-cita belum lah
terwujud secara total, dengan masih banyaknya kejadian atau persoalan di dalam
Bangsa Indonesia ini. Jika, ketidakadilan dan kesejahteraan tidak lagi
dirasakan dalam masyarakat, lalu apa arti dari cita-cita yang tercantum dalam
Dasar Negara yaitu Pancasila ?
Daftar
Pustaka :
Thukul,Wiji. Pikiran Punya Hukum Sendiri, Apakabar List (Indopubs) 25 Juni 1996,
SUARA MASSA : KOLOM WIJI THUKUL
(Artikel ini telah diterbitkan sebelumnya di Tabloid Suara Massa, Media Propaganda Organisasi Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi)
Thukul,Wiji. 2014. Nyanyian Akar Rumput-Kumpulan Lengkap Puisi
Wiji Thukul. Gramedia Pustaka Utama.
Wotton, David. 1993. John Locke: Political Writings. Indianapolis.
Hackett Publishing Company.
Ludgeryus Angger Prapaska / 14 Februari 2016

0 Comments