Berseru
mengapi adil yang kian redup
Berseruh
membuka mata yang telah mengatup
Demi
daging kepada jiwa – pengais hidup
Ke
mana semua puisi yang telah terlukis
Dengan
jumlah yang bertumpah ruah
Dengan
senandung merdu yang mengaliri telinga
Dengan
indah bak senja di Pulau Rinca
Seribu
suara meletup
Kepada
mata di puncak langit
Kepada
telinga di punggung bukit
Kepada
hati yang melupa diri
Entah
mengapa,
Mengapa
diamlah yang senantiasa berlagu
Bernyanyi
Sesepi
perih yang menyayat luka
Sebisu
pisau yang mengiris darah
Seribu
suara meletup
Berkoar
membakar dendam
Membelah
batu di balik dinding
Setinggi
langit bertembok kuasa
Haruskah
kami mati untuk tetap hidup
Dalam
dupa yang mengasap maut
Sampai
waktu tak lagi berdegup detik
Endy Langobelen
Jogja, 9 Nov ’15

0 Comments