Oleh : Endy
Langobelen
Pada hari minggu kutunggu
ibu di kota. Sudah tak sabar aku ingin bertemu ibu setelah sebulan lamanya ia habiskan
waktunya untuk bekerja di kampung. Kemarin ibu berjanji padaku, setibanya ia di
kota, aku akan diajak berkeliling dengan peasawat. Wah, naik pesawat? Senang
sekali, pastinya. Aku belum pernah melihat isi dari dalam pesawat. Jangankan
isinya, tiketnya saja belum pernah kulihat. Aku hanya melihat pesawat dari luarnya
saja. Melihat kedua sayapnya yang tak pernah mengepak. Tapi, kok bisa terbang,
ya? Apa kalian tahu, sebab apa pesawat dapat terbang? Sama, aku pun tak pernah
tahu. Mungkin pesawat punya sihir. Tapi
aku benci sihir. Kata ibu, dulu ayahku disihir oleh orang-orang yang tak
bertanggung jawab. Ayahku disihir hingga ketiduran di dalam tanah. Entah kapan
ayahku terbangun dan kembali bermain serta bernyanyi bersamaku. Semoga saja
pesawatnya tak bersihir.
***
Aku bahagia sekali ketika
melihat ibu turun dari pintu bus. Aku berlari
meraih pelukannya.
“Bu, kapan kita
berkeliling dengan pesawat sesuai janji ibu kemarin?”
Aku berbisik ke telinganya saat kami sedang berpelukan.
Ibu tidak menjawabku. Siang itu, ibu mengajakku dengan berjalan kaki mengelilingi
kota. Ibu membelikanku es krim, cokelat, dan balon gas yang berwarna-warni. Aku
dan ibu berjalan sampai pada sebuah senja di hari minggu itu dan kutahu pada malam
harinya nanti ibu harus kembali ke kampung untuk pekerjaanya besok dan
hari-hari selanjutnya. Wajah ceriaku perlahan padam.
“Dari siang sampai sore, sama sekali mataku belum melihat
pintu masuk bandara. Kakiku juga belum menginjak kintal bandara. Apakah ibuku lupa
akan janjinya kemarin? Ataukah aku yang lupa menanyakan hal ini lagi kepada ibu?”
Aku bertanya-tanya dalam hati.
”Oh, iya. Ibu lupa.”
Wajahku yang tadi padam kembali bersinar ketika mendengar
perkataan itu. Ibu menyusupkan tangannya ke dalam tas tentengannya.
Kupikir-pikir ibu pasti mengambil tiket pesawat yang sedari tadi kutungu-tunggu.
“Ini, untuk kamu.”
Ibu memberiku selembar kertas yang berbentuk pesawat.
Di dalamnya ada sebuah foto. Mengapa ada fotoku bersama ibu. Inikan foto di hari
ulang tahunku yang kelima. Oh, iya aku ingat. Di saat itulah aku pertama kali
meminta kepada ibu untuk berkeliling dengan pesawat.
“Bu, ini tiket pesawat yang kemarin ibu janjikan, ya?
Kapan kita naik pesawatnya, bu? Kan entar lagi ibu sudah harus kembali ke kampung.”
Aku bertanya pada ibu dengan kerutan di dahi. Ibu tersenyum
padaku.
”Nak, kemarin ibu bilang apa, hari ini kita akan
mengelilingi kota dengan pesawat. Coba kamu lihat pesawat kertas itu. Ada ibu dan
juga ada kamu. Dengan pesawat kertas itu, kita tadi sudah mengelilingi kota.
Sekarang kamu sudah punya pesawat pribadi. Kamu bisa kemana-mana bersama pesawat
kertas itu.”
Setelah mendengar penjelasan ibu, rasanya aku ingin segera
merobek dan membuang pesawat kertas itu. Ibu tahu aku begitu sedih mendengar
penjelasannya. Ia memelukku erat. Ibu merapatkan bibirnya ke telingaku.
“Nak, ibu tahu kau pasti membenci pesawat kertas itu.
Tapi ibu mohon, kau jangan membuangnya.
Tulislah mimpimu pada punggung pesawat itu. terbangkanlah mimpimu setinggi
langit. Ibu yakin pesawat kertas itu akan menjadi pesawat yang membawamu
terbang bersama impian yang kaucita-citakan. Suatu saat jika kau telah berhasil
menerbangkan pesawat di atas awan, ibu ingin kaumengajak ibu mengelilingi dunia
bersamamu.”
Aku merasakan tetes demi tetes air mata ibu telah membasahi
leherku. malam itu sungguh membuka mata dan hatiku. Aku bangga pada ibu.
“Terima kasih, bu. Aku sayang padamu.”
SEKIAN
Endy Langobelen
1 Desember 2015

0 Comments