Lepas kertas perak jelma gantungan kapal terbang di kamar bujang;
Pita merah merekah tergulai putus asa di muka kantor baru bapak;
Sisa pirang rambut mati di lantai pualam salon Jepang ibu;
Aku mengkilap bersih di sini—dipeluk balut kirmizi
Dipakai sesekali—selebihnya sepi.
Di letak lain, di bawah jembatan layang
Aku merupa pembunuh—mengoyak nadi pelalu-lalang.
Di busuk TPA, aku ditemukan bocah lapar—matanya redup jelang ajal.
Uzur dan berkarat. Lebih bencana dari rupiah diinjak-injak sepatu dolar.
Aku mengkilap bersih di sini—dipeluk balut kirmizi
Dipakai sesekali—selebihnya sepi.
Tak jenuh aku menunggu-nunggu, kapan bujang
Meraihku—menjadikanku karib pecah bencana
Di bingkai pintu rumah yang baru dibuka
Lepas lelah jalan panjang pulang kerja
Mengajak bapak-ibunya pergi ke surga.
Sebab bagaiamanapun juga, mati
Jauh lebih ramah daripada sepi.
(Jogjakarta, 2015)
Afryantho Keyn
0 Comments