Aku burung,
dan kau paksa aku berenang?
Mungkin aku bisa pura-pura renang,
tapi aku tak senang.
Mungkin aku bisa pura-pura senang,
tapi aku tak akan menang.
Jadi, bisakah biarkan aku terbang?
Menurut saya puisi 'Aku Burung' ini baik dan bermakna. Saya melihat puisi ini mengandung nilai moral sosial, di mana penulis mengekspresikan suatu bentuk penolakan secara halus dan tersirat, yakni dengan menggunakan pertanyaan yang berbau retoris. Pada puisi ini penulis sedang berada di dalam bilik kedilemaan. Secara tidak langsung penulis menjadi bingung saat disuruh melakukan sesuatu yang sebenarnya tak dapat ia lakukan. Penulis ingin menolak hal tersebut namun ada perasaan yang membendung penolakan itu, entah karena si 'Kau' adalah seseorang yang dekat atau bahkan berarti baginya. Penulis sempat berpikir tentang akibat apabila ia tetap melakukan suruhan itu. Namun yang dia dapatkan hanyalah kekalahan bahkan kesedihan mendalam yang disebabkan oleh suatu bentuk keterpaksaan. Dengan begitu, penulis memilih tuk menjelaskan semua isi perasaannya, tetapi dengan cara yang halus dan kemudian penjelasan itu ditutup dengan sebuah pertanyaan retoris "... bisakah aku terbang?"
Saya membuat apresiasi ini di dalam WC. Maaf, apabila baunya kurang sedap untuk dibaca. :)
6 Comments
Sedikit apresiasi dari saya.
ReplyDeleteMenurut saya puisi 'Aku Burung' ini baik dan bermakna. Saya melihat puisi ini mengandung nilai moral sosial, di mana penulis mengekspresikan suatu bentuk penolakan secara halus dan tersirat, yakni dengan menggunakan pertanyaan yang berbau retoris. Pada puisi ini penulis sedang berada di dalam bilik kedilemaan. Secara tidak langsung penulis menjadi bingung saat disuruh melakukan sesuatu yang sebenarnya tak dapat ia lakukan. Penulis ingin menolak hal tersebut namun ada perasaan yang membendung penolakan itu, entah karena si 'Kau' adalah seseorang yang dekat atau bahkan berarti baginya. Penulis sempat berpikir tentang akibat apabila ia tetap melakukan suruhan itu. Namun yang dia dapatkan hanyalah kekalahan bahkan kesedihan mendalam yang disebabkan oleh suatu bentuk keterpaksaan. Dengan begitu, penulis memilih tuk menjelaskan semua isi perasaannya, tetapi dengan cara yang halus dan kemudian penjelasan itu ditutup dengan sebuah pertanyaan retoris "... bisakah aku terbang?"
Saya membuat apresiasi ini di dalam WC. Maaf, apabila baunya kurang sedap untuk dibaca. :)
terima kasih endy untuk komentar dan analisisnya :)
Deleteterima kasih endy untuk komentar dan analisisnya :)
DeleteOke, sama-sama. teruslah menarikan tinta penamu dalam kata yang mesti terbaca.
ReplyDeleteaku juga mau nulis
ReplyDeletetapi nggak tau gimana caranya masukin ke blog ini
Kirim ke sasindo2015@gmail.com kak :)
Delete